MODUL MERDEKA MENGAJAR
MODUL AJAR 1
DASAR DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Elemen :
Proses bisnis secara menyeluruh
di bidang agribisnis tanaman

OLEH :
ISHAR
SALIMA
SAFARIA ZUBAIR
MARIA
FATMAWATY
SMK NEGERI 2 KOLAKA (Ex smkn. 1 baula )
SMK PUSAT KEUNGGULAN
Kabupaten kolaka
Provinsi Sulawesi tenggara
ELEMEN
Nama
Penyusun : Ishar, SP. M.Pd
Satuan Pendidikan :
SMK Negeri 2 Kolaka
Kelas / Semester : X (sepuluh ) / Ganjil
Alokasi Waktu : 48 JP ( 4 X 12 ) tatap muka
Perkembangan teknologi produksi dan isu-isu global terkait dengan agribisnis dan industri tanaman
|
CAPAIAN PEMBELAJARAN |
|
|
Umum : |
Pada akhir fase E (kelas X), peserta didik akan mendapatkan gambaran mengenai
agribisnis tanaman sehingga mampu menumbuhkan passion dan vision untuk
merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar. Selain itu di
akhir fase E, pada aspek hard skills peserta didik
akan mampu memahami elemen-elemen kompetensi pada mata
pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis Tanaman. |
|
Khusus : |
Pada akhir fase
E, peserta didik dapat memahami
perkembangan proses produksi tanaman secara konvensional sampai modern, pertanian perkotaan (urban farming), alat dan mesin pertanian
dari yang konvensional sampai yang
otomatis dan berbasis IOT, smart farming dan isu pemanasan global, perubahan iklim, ketersediaan pangan global, regional
dan lokal, sustainable farming
(pertanian berkelanjutan), serta penerapan bioteknologi dalam
pertanian. |
TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pembelajaran, peserta didik mampu : 1. menjelaskan perkembangan proses produksi
tanaman secara konvensional sampai modern 2. menjelaskan
pertanian
perkotaan (urban farming) 3. menerangkan
alat dan mesin pertanian dari yang konvensional
sampai yang otomatis
dan berbasis IOT 4. mengaitkan
smart farming
dan isu pemanasan
global 5. mengidentifikasi perubahan iklim
secara mandiri 6. menjelaskan ketersediaan pangan global,regional
dan lokal 7. menjabarkan
sustainable farming (pertanian berkelanjutan) 8. menjelaskan penerapan bioteknologi dalam pertanian
1
KATA
KUNCI
Urban farming, otomatisasi alat dan mesin pertanian, smart farming, isu pemanasan
global, perubahan iklim, kesediaan pangan, sustainable farming, bioteknologi dalam
pertanian.
Mandiri
Bernalar Kritis
Kreatif
PROFIL PELAJAR PANCASILA

SARANA
DAN PRASARANA
❖ Gawai (
bisa berupa handphone android, tablet, laptop dsb.)
❖ Jaringan internet yang bagus
❖ Akun gmail untuk
pengumpulan tugas melalui Google Classroom
❖ Alat tulis dan buku
❖ LCD (untuk
luring)
TARGET PESERTA DIDIK Semua siswa dalam kelas masing-masing
Jumlah peserta
didik dalam pembelajaran maksimal 36 peserta didik
KETERSEDIAAN MATERI MODEL & MODA PEMBELAJARAN ✓ Pengayaan untuk siswa berpencapaian tinggi: ✓ Alternatif penjelasan, metode, atau aktivitas, untuk siswa yang sulit memahami konsep: ✓ Model
Pembelajaran : Problem Based Learning ✓ Moda
Pembelajaran
: daring & atau luring ASESMEN JENIS ASESMEN ✓ Individu ✓ Kelompok ✓ Observasi /pengamatan ✓ Presentasi
2
YA / TIDAKYA / TIDAK
KEGIATAN PEMBELAJARAN
UTAMA Pengaturan peserta didik :
• Individu
• Kelompok (
masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang) Metode :
• Diskusi
• Observasi
• Penugasan
• Materi ajar
:
MATERI AJAR


1. Perkembangan proses produksi tanaman
secara konvensional sampai modern
2. Pertanian perkotaan (urban farming)
3.
Alat dan mesin pertanian dari
yang konvensional sampai yang
otomatis dan
berbasis IOT
4. Smart farming dan isu pemanasan global, perubahan iklim
5.
Ketersediaan pangan global,regional dan lokal
6. Sustainable farming (pertanian berkelanjutan)
7. Penerapan bioteknologi dalam pertanian
• LKPD (terlampir)
• Link youtube : https://youtube/CZ2PaptT4f8 dan https://www.youtube.com/watch?v=T-CHoAvomVE
PEMAHAMAN BERMAKNA
Salah satu tantangan pembangunan pertanian ke depan adalah
mempertahankan keberlanjutan untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan
kesejahteraan petani.
Urban Farming merupakan
strategi pemanfaatan lahan di area perkotaan untuk mengurangi ketergantungan pasar, menjadi solusi menghadapi
krisis ketahanan
pangan,
dan tentunya mampu meningkatkan
perekonomian masyarakat.
3

Smart farming (pertanian pintar) merupakan system pertanian berbasis teknologi yang dapat membantu
petani menghasilkan panen secara
kuantitas dan
kualitas. Dengan penggunaan platform
yang
dikonektivitasikan dengan perangkat teknologi (tablet maupun handphone) dalam pengumpulan informasi (misalkan status hara tanah,
kelembaban udara, kondisi cuaca dsb.) yang diperoleh dari lapangan membuat pekerjaan menjadi lebih
efektif dan efisien.
PERTANYAAN PEMANTIK
1. Dapatkah kita bertani meskipun lahannya sempit/tidak
memiliki lahan pertanian?
2. Bagaimana mengontrol tanaman
pada lahan yang luas dengan tenaga kerja yang terbatas?
3. Bagaimana bertani yang ramah lingkungan?
4.
Bagaimana
menanam untuk ketersediaan pangan,
namun iklim
tidak menentu?
5. Apa pendapatmu tentang bioteknologi di bidang pertanian?
PERSIAPAN PEMBELAJARAN Sebelum pembelajaran dimulai, pastikan bahwa : Peserta didik
:
a.
Mempersiapkan
perangkat gawai yang akan digunakan
b. Mempersiapkan alat tulis dan
buku
c. Memiliki paket data/wifi dan
jaringan yang bagus
d. Memiliki
akun gmail
untuk bergabung di Google Classroom
Guru memastikan :
e. Ruang kelas, LCD, Laptop, dan materi (bahan tayang) telah siap.
Point a sampai dengan d
(jika dilakukan secara daring), point e
jika dilakukan secara luring
4

URUTAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 12 jp Zoom / G meet /
lainnya
(daring) ataupun
luring a Pendahuluan ( 20 menit) - Guru mengucap salam dan mengajak peserta didik berdoa untuk mengawali
kegiatan. - Guru menanyakan kabar peserta didik dan selalu
mengingatkan protokol kesehatan
dan selalu
menjaga
kesehatan. - Guru mengingatkan kembali
kepada peserta didik untuk mengisi presensi di link yang sudah dibagikan. - Guru memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran, langkah
pembelajaran dan penilaian
serta memberikan
apersepsi dengan mengaitkan masalah
yang ada di sekitar peserta didik dengan materi yang
akan dipelajari. Permasalahan yang
diangkat adalah tentang : - Perubahan
iklim - Ketersediaan
lahan pertanian yang semakin
berkurang - Ketersediaan
pangan baik lokal, regional maupun global b Kegiatan
Inti (500 menit) Orientasi peserta didik pada masalah Guru menyampaikan
masalah yang akan
dipecahkan
secara berkelompok. Masalah
yang
akan dipecahkan bersifat
konteksual. Peserta Didik menyimak Video
pembelajaran pada link berikut
ini https://youtube/CZ2PaptT4f8 . Video tersebut berisi tentang dampak perubahan
iklim termasuk dalam sektor pertanian, juga menggambarkan tentang pertanian berkelanjutan. Sedangkan pada link berikut
: https://www.youtube.com/watch?v=T-CHoAvomVE menggambarkan kreatifitas
dalam memanfaatkan limbah
dalam kegiatan
urban farming. Mengorgani sasikan peserta didik Berdasarkan video
pendek tersebut, peserta didik
dipersilakan mengajukan permasalahan apa yang terjadi saat ini terkait
dengan tayangan video tersebut. Guru memfasilitasi. Permasalahan yang
muncul diantaranya
:
5

1. Perubahan iklim
dan isu
pemanasan global 2. Dampak
perubahan iklim terhadap sektor
pertanian 3. Alternatif solusi
dampak perubahan iklim di
sektor
pertanian 4. Kaitannya antara
isu pemanasan global
dengan smart farming 5. Sustainable farming Peserta didik berdiskusi dan membagi tugas untuk mencari data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah Membimbin g penyelidika n individu maupun kelompok - Peserta didik melakukan penyelidikan (mencari data/referensi/sumber )
untuk bahan diskusi. - Guru memantau keterlibatan peserta didik
dalam pengumpulan data selama proses
penyelidikan. Mengemban gkan dan menyajikan hasil
karya - Peserta didik secara
berkelompok melakukan diskusi untuk menghasilkan solusi
pemecahan masalah dan hasilnya dipresentasikan /disajikan
dalam bentuk karya. - Guru
memantau
diskusi dan membimbing
pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan. Menganalisi s dan mengevalua si proses pemecahan masalah - Setiap
kelompok melakukan presentasi,
kelompok lain memberikan
apresiasi. Kegiatan dilanjutkan
dengan merangkum/membuat kesimpulan
sesuai dengan masukan yang diperoleh dari kelompok
lain. - Guru membimbing presentasi dan mendorong
kelompok memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain. - Guru
bersama
peserta didik menyimpulkan materi c Penutup (20 menit) - Guru dan
peserta
didik
melakukan refleksi kegiatan
pembelajaran yang telah
dilakukan. - Guru menyampaikan ke peserta
didik
rencana pertemuan berikutnya tentang
Perkembangan proses produksi tanaman secara konvensional
sampai modern - Doa penutup
6

Pertemuan 2 12 jp Zoom / G meet /
lainnya
(daring) ataupun
luring a Pendahuluan ( 20 menit) - Guru mengucap salam dan menunjuk salah satu peserta
didik untuk memimpin doa supaya pembelajaran
hari ini berjalan
lancar
dan memberikan
kebermanfaatan untuk
semua. - Guru menanyakan kabar peserta didik dan selalu
mengingatkan protokol kesehatan
dan selalu
menjaga
kesehatan. - Guru mengingatkan
kepada peserta didik untuk mengisi presensi di link yang
sudah dibagikan. - Guru menanyakan kembali
materi minggu
lalu, apakah masih ada peserta didik yang mengingat. Guru
mengajukan beberapa pertanyaan terkait materi minggu
lalu. Guru memberi apresiasi untuk peserta didik yang berani menjawab. - Guru mengaitkan materi
minggu
lalu dengan kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan hari ini,
yaitu tentang
perkembangan proses produksi
tanaman dari mulai konvensional
sampai dengan modern. b Kegiatan
Inti (500 menit) Orientasi peserta didik pada masalah Guru menyampaikan masalah yang akan
dipecahkan
secara berkelompok.
Masalah yang akan dipecahkan
bersifat
konteksual. Dapat berupa video, maupun gambar komparasi
pertanian jaman dulu dengan pertanian jaman sekarang. - Bagaimana cara bercocok
tanam masyarakat
jaman
dahulu dengan sekarang? - Alat
dan atau
mesin pertanian apa yang digunakan untuk bertani oleh masyarakat jaman dulu
dengan sekarang? Mengorgani sasikan peserta didik - Guru membagi
peserta
didik dalam kelompok. - Peserta
didik
berdiskusi dan membagi tugas untuk mencari
data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah Membimbin g penyelidika - Peserta didik melakukan penyelidikan (mencari data/referensi/sumber )
untuk bahan diskusi tentang
: 1. Perkembangan proses produksi
tanaman secara
7

n individu maupun kelompok konvensional sampai modern 2. Perkembangan alat dan atau
mesin pertanian - Guru memantau keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan data selama proses
penyelidikan. Mengemban gkan dan menyajikan hasil
karya - Peserta didik secara
berkelompok melakukan diskusi untuk menghasilkan solusi
pemecahan masalah dan hasilnya dipresentasikan /disajikan
dalam bentuk karya. - Guru
memantau
diskusi dan membimbing
pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan. Menganalisi s dan mengevalua si proses pemecahan masalah - Setiap
kelompok melakukan presentasi,
kelompok lain memberikan
apresiasi. Kegiatan
dilanjutkan dengan
merangkum/membuat
kesimpulan
sesuai dengan masukan yang diperoleh dari kelompok
lain. - Guru membimbing presentasi dan mendorong
kelompok memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain. - Guru
bersama
peserta didik menyimpulkan materi c Penutup (20 menit) - Guru dan peserta
didik
melakukan refleksi tentang
pembelajaran pada pertemuan ini dengan cara menyatakan pendapat
sekaligus saran
tentang bagaimana
pembelajaran hari ini
dari awal sampai akhir Guru menyampaikan kegiatan
berikutnya
yaitu tentang alat dan mesin
pertanian dari yang konvensional sampai yang otomatis dan berbasis IOT. - Doa penutup Pertemuan
3 12 jp Zoom / G meet /
lainnya
(daring) ataupun
luring a Pendahuluan (20 menit) - Guru dan
peserta didik berdoa terlebih dahulu,
agar diberi kemudahan
selama
belajar dan diberi tambahan
ilmu yang
bermanfaat. Peserta
didik mengisi daftar
hadir sesuai
link yang
dibagikan.
8

- Guru menanyakan kabar peserta didik dan
mengingatkan
peserta didik agar menjaga
kesehatan dan mentaati
selalu protokol kesehatan
agar terlindungi dari penyakit. - Guru melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi pada pertemuan lalu dengan kegiatan yang akan dilakukan saat ini. b Kegiatan
Inti (500 menit) Orientasi peserta didik pada masalah Guru menyampaikan masalah yang akan
dipecahkan
secara berkelompok. Masalah yang akan dipecahkan bersifat konteksual. Dapat berupa
video, maupun
gambar
alat-alat dan mesin
pertanian dari yang konvensional
maupun otomatis, dan berbasis
IOT. - Bagaimana perkembangan penggunaan alat dan
atau mesin pertanian? Mengorgani sasikan peserta didik - Guru membagi
peserta
didik dalam kelompok. - Peserta
didik
berdiskusi dan membagi tugas untuk mencari
data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah Membimbin g penyelidika n individu maupun kelompok - Peserta didik melakukan penyelidikan (mencari data/referensi/sumber ) untuk bahan diskusi tentang
: 1. Alat dan atau mesin pertanian konvensional 2. Alat dan
mesin pertanian modern 3. Alat dan
mesin pertanian berbasis IOT - Guru memantau keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan data selama proses
penyelidikan. Mengemban gkan dan menyajikan hasil
karya - Peserta didik secara
berkelompok melakukan diskusi untuk menghasilkan solusi
pemecahan masalah dan hasilnya dipresentasikan /disajikan
dalam bentuk karya. - Guru
memantau
diskusi dan membimbing
pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan. Menganalisi s dan mengevalua si proses - Setiap
kelompok melakukan presentasi,
kelompok lain memberikan
apresiasi. Kegiatan
dilanjutkan dengan
merangkum/membuat
kesimpulan
sesuai dengan masukan yang diperoleh dari kelompok
lain.
9

|
pemecahan masalah |
-
Guru membimbing presentasi
dan mendorong
kelompok memberikan penghargaan serta masukan
kepada kelompok lain. - Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi |
|
c |
Penutup (20 menit) |
|
- |
Guru dan
peserta didik
melakukan refleksi tentang pembelajaran pada pertemuan ini
dengan cara menyatakan pendapat sekaligus saran tentang bagaimana pembelajaran hari ini
dari
awal
sampai akhir |
|
- |
Guru menyampaikan kegiatan berikutnya yaitu tentang penerapan bioteknologi dalam pertanian. |
|
- |
Doa penutup |
Pertemuan
4 12 jp Zoom / G meet /
lainnya
(daring) ataupun
luring a Pendahuluan (20 menit) - Guru dan
peserta didik berdoa terlebih dahulu,
agar diberi kemudahan
selama
belajar dan diberi tambahan
ilmu yang
bermanfaat. Peserta
didik mengisi daftar
hadir sesuai
link yang
dibagikan. - Guru menanyakan kabar peserta didik dan
mengingatkan
peserta didik agar menjaga
kesehatan dan mentaati
selalu protokol kesehatan
agar terlindungi dari penyakit. - Guru melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi pada pertemuan
lalu dengan kegiatan
yang akan dilakukan saat ini yaitu tentang
penerapan bioteknologi
dalam
pertanian. b Kegiatan
Inti (500 menit) Orientasi peserta didik pada masalah - Guru
menyampaikan masalah yang
akan dipecahkan secara berkelompok.
Masalah yang akan
dipecahkan
bersifat konteksual. Guru
menayangkan video/gambar/foto dalam ppt. Tayangan yang disajikan
berupa permasalahan penggunaan
pupuk dan pestisida non
ramah lingkungan sehingga membutuhkan solusi
untuk penggunaan pestisida hayati, pupuk
10

hayati, mikroorganisme yang efektif, serta bioteknologi
lainnya di bidang pertanian. - Guru
mengarahkan peserta
didik
untuk menemukan permasalahan dr tayangan tersebut dan mencoba
merumuskan permasalahan tersebut. Mengorgani sasikan peserta didik - Guru membagi
peserta
didik dalam kelompok. - Peserta didik berdiskusi dan membagi tugas untuk mencari
data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Data didapat
dari berbagai sumber
misalnya internet, buku, ataupun sumber lainnya. Membimbin g penyelidika n individu maupun kelompok - Peserta didik melakukan penyelidikan (mencari data/referensi/sumber )
untuk bahan diskusi tentang
: 1. bioteknologi
konvensional
di bidang pertanian 2. bioteknologi modern di
bidang pertanian - Dalam
kegiatan penyelidikan, guru dapat mengajak
peserta didik mengamati kegiatan di laboratorium ( kultur jaringan, Hama & Penyakit
Tanaman, TTA, dll. Untuk
melihat langsung/observasi penerapan
bioteknologi
di sekolah sebagai bahan
referensi. - Guru
memantau keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan data selama proses
penyelidikan. Mengemban gkan dan menyajikan hasil
karya - Peserta didik secara
berkelompok melakukan diskusi untuk menghasilkan solusi pemecahan masalah dan hasilnya dipresentasikan /disajikan
dalam bentuk karya. - Guru
memantau
diskusi dan membimbing
pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan. Menganalisi s dan mengevalua si proses pemecahan masalah - Setiap
kelompok melakukan presentasi,
kelompok lain memberikan
apresiasi. Kegiatan
dilanjutkan dengan
merangkum/membuat
kesimpulan
sesuai dengan masukan yang diperoleh dari kelompok
lain. - Guru membimbing presentasi dan mendorong
kelompok memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain. - Guru
bersama
peserta didik menyimpulkan materi
11

|
c |
Penutup (20 menit) |
|
- |
Guru dan
peserta didik
melakukan refleksi tentang pembelajaran pada pertemuan ini
dengan cara menyatakan pendapat sekaligus saran tentang bagaimana pembelajaran hari ini
dari
awal
sampai akhir |
|
- |
Guru menyampaikan kegiatan berikutnya yaitu modul 3
tentang Agripreneur dan peluang usaha di bidang agribisnis tanaman. |
|
- |
Doa penutup |
KRITERIA PENGUKURAN
KETERCAPAIAN
a. Guru membuat kriteria berhasil/tidak dari instrument performance assessmen yang dibuat.
b. Guru membuat kriteria berhasil/tidaknya penilaian normatif dari hasil
observasi dan presentasi siswa
REFLEKSI GURU
❖ Apakah dalam pemberian materi dengan metode yang telah dilakukan serta penjelasan teknis atau instruksi yang
disampaikan untuk pembelajaran yang akan dilakukan dapat dipahami oleh peserta didik?
❖ Bagian manakah pada rencana pembelajaran yang perlu
diperbaiki?
❖ Bagaimana tanggapan peserta didik terhadap materi atau bahan ajar, pengelolaan kelas, latihan dan penilaian yang telah dilakukan dalam pembelajaran?
❖ Apakah dalam berjalannya proses pembelajaran sesuai dengan
yang
diharapkan?
❖ Apakah arahan dan penguatan materi yang telah dipelajari dapat dipahami
oleh peserta didik?
REFLEKSI SISWA
❖ Apakah kamu memahami instruksi yang dilakukan untuk pembelajaran?
❖ Apakah media pembelajaran, alat dan
bahan mempermudah kamu dalam
12
pembelajaran?

❖ Materi
apa yang kamu pelajari pada pembelajaran yang telah dilakukan?
❖ Apakah materi yang
disampaikan, didiskusikan, dan dipresentasikan dalam
pembelajaran dapat kamu pahami?
❖ Manfaat apa yang kamu peroleh dari materi pembelajaran?
❖ Sikap positif apa
yang kamu peroleh selama mengikuti kegiatan pembelajaran?
❖ Kesulitan apa yang kamu alami dalam pembelajaran?
❖ Apa saja yang kamu lakukan untuk belajar yang lebih
baik?
LAMPIRAN
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 1
No. Tema Rumusan Masalah Pengumpulan data Solusi pemecahan masalah 1. Perubahan
iklim dan isu pemanasan
global 2. Dampak perubahan
iklim di sector pertanian 3. Alternatif solusi dampak perubahan iklim di sektor pertanian 4. Smart
farming dan isu pemanasan global, perubahan
iklim 5. Ketersediaan
13

|
|
pangan global,regional dan lokal |
|
|
|
|
6. |
Pertanian berkelanjutan (sustainable farming) |
|
|
|
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 2
|
No. |
Tema |
Rumusan Masalah |
Pengumpulan data |
Solusi pemecahan masalah |
|
1. |
Pertanian konvensional |
|
|
|
|
2. |
Pertanian modern |
|
|
|
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 3
|
No. |
Tema |
Rumusan Masalah |
Pengumpulan data |
Solusi pemecahan masalah |
|
1. |
Alat dan atau mesin
pertanian konvensional |
|
|
|
|
2. |
Alat dan mesin pertanian modern |
|
|
|
|
3. |
Alat dan mesin pertanian berbasis IOT |
|
|
|
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 4
No. Tema Rumusan Masalah Pengumpulan data Solusi pemecahan masalah 1. Bioteknologi konvensional
di bidang
14

|
|
pertanian |
|
|
|
|
2. |
Bioteknologi modern
di bidang pertanian |
|
|
|
KRITERIA PENILAIAN
1. Penilaian Proses (observasi diskusi)
Berilah skor 1, 2
atau 3
yang sesuai
|
No. |
Nama Siswa |
Unsur Penilaian |
Jumlah skor |
||
|
gagasan |
keaktifan |
komunikasi |
|
||
|
1 |
Nawang |
|
|
|
|
|
2 |
|
|
|
|
|
|
3 |
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
dst |
dst |
|
|
|
|
Penentuan Nilai : N
= Skor perolehan x 100
Skor maksimal
Rubrik penilaian
|
Aspek yang dinilai |
Skor Penilaian |
|||
|
1 |
2 |
3 |
||
|
1 |
Gagasan |
kurang |
sedang |
bagus |
|
2 |
Keaktifan |
kurang |
sedang |
aktif |
|
3 |
Komunikasi |
Terbata-bata |
sedang |
Lancar
& baik |
2.
Presentasi
Berikan point 1,2 atau 3 yang sesuai.
|
No. |
Nama Siswa |
Unsur Penilaian |
Jumlah skor |
|||
|
substansi |
wawasan |
komunikasi |
Penampilan/ performance |
|
||
|
1 |
Eno |
|
|
|
|
|
|
2 |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
|
|
|
|
|
|
|
dst |
dst |
|
|
|
|
|
Perhitungan nilai : Nilai = Skor yang diperoleh X 100
Skor maksimal
15

Rubrik penilaian
|
Aspek yang dinilai |
Skor Penilaian |
|||
|
1 |
2 |
3 |
||
|
1 |
Substansi |
kurang |
sedang |
mendalam |
|
2 |
Wawasan |
kurang |
sedang |
luas |
|
3 |
Komunikasi |
Terbata-bata |
sedang |
Lancar
&baik |
|
4 |
Penampilan/peroformance |
kurang |
sedang |
baik |
|
Disahkan Oleh Kepala Sekolah, |
Diperiksa Oleh : Waka Kurikulum, |
Kolaka, 10 juli 2022 Guru Mata Pelajaran, |
|
NIP.19780523
200312 1 011 |
SUFAH KODUKU, S.Pd NIP.197209082000121004 |
ISHAR, S.P.M.Pd NIP.19690223200012
1 003 |
16
![]()

BAHAN BACAAN
A. Perkembangan Proses Produksi Tanaman
Secara Konvensional Sampai
Modern
Di dalam kehidupan manusia tidak terlepas dengan pertanian, manusia sudah mengenal pertanian bahkan selalu berhubungan dengan pertanian. Manusia
mengenal budidaya tanaman sejak manusia mulai melakukan kegiatan bercocok tanam. Pada awal kehidupan, manusia memenuhi kebutuhan pangan hanya bergantung pada alam.
Tanaman yang tumbuh di alam akan diambil untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia hanya mengkonsumsi hasil tanaman dari
alam dan tidak melakukan penanaman atau budidaya.
Seiring perjalanan kehidupan manusia kebutuhan semakin meningkat, manusia banyak tetapi hasil alam tetap maka manusia apabila mengandalkan hasil alam tidak cukup. Manusia mulai mengenal bercocok tanam berawal dari secara kebetulan
beberapa
biji-bijian yang terbuang sewaktu kaum
ibu menyiapkan makanan berkecambah dan tumbuh
menjadi tanaman
yang menghasilkan untuk dikonsumsi. Selanjutnya berkembang usaha
bercocok tanam sebagai salah
satu kegiatan pertama pertanian. Karena
kebutuhan semakin meningkat
dan
hasil alam
tidaklah cukup
untuk
memenuhi kebutuhan, maka manusia mulai bercocok tanam dengan menyebar biji-bijian yang ada agar tumbuh menjadi tanaman baru dan
bisa dipanen.
Perkembangan pertanian dari suatu negara berjalan sesuai dengan tahapan perkembangan
masyarakat, mekanisme pasar yang berlaku, perkembangan
teknologi dan perkembangan ekonomi serta perkembangan kelembagaan sosial.
Ada tiga tahapan perkembangan
pertanian berdasarkan tingkat kemajuandan tujuan pengelolaan sektor pertanian tersebut :
a. Tahap pertama adalah
pertanian tradisional
yang dicirikan dengan tingkat produktivitas sektor pertanian yang rendah.
b. Tahap kedua adalah tahapan komersialisasi dari produk pertanian mulai 17

dilakukan tetapi penggunaan teknologi dan modal relatif masih rendah. c. Tahap
ketiga adalah tahap seluruh produk pertanian ditujukan untuk melayani keperluan pasar komersial
dengan ciri penggunaan teknologi
serta modal yang tinggi dan
mempunyai produktivitas yang tinggi pula. Pada tahapan pertama atau tahap pertanian tradisional, para petani
biasanya menggarap tanah hanya sebatas yang dapat dikelola oleh tenaga kerja
keluarga tanpa memerlukan tenaga kerja bayaran, keadaan lingkungan statis, penggunaan teknologi sangat terbatas, sistem kelembagaan sosial kaku,pasar terpencar-pencar serta
jaringan komunikasi antar
daerah pedesaan
dan perkotaan kurang memadai dan cenderung menghambat perkembangan
produksi.
Proses perkembangan pertanian
pada
umumnya berkaitan
dengan upaya perubahan dari sistem pertanian yang mempunyai produktivitas rendah kepada sistem lebih modern yang
mempunyai produktivitasnya relatif tinggi dan
yang mungkin menimbulkan dampak sampingan terhadap lingkungan akibat penggunaan teknologi dan
asupan (input) pertanian modern. Dampak sampingan tersebut tidak hanya
ditemui pada pertanian modern tetapi juga
ditemui pada
pertanian tradisional,
sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang
meningkat cepat. Meskipun selama ini pertanian tradisional telah sukses mengelola sumberdaya pertanian tanpa melahirkan kerusakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaiki, tetapi permasalahan lingkungan
akan timbul akibat tekanan populasi penduduk terhadap lahan yang tersedia relatif sempit sehingga daya
dukungnya rendah.
Pertanian tradisional di daerah tropik dicirikan khususnya oleh
adanya tekanan
untuk terus melakukan perluasan areal yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Pengaruh langsung dari
perluasan areal tersebut termasuk terjadinya pencucian hara yang relatif cepat dan adanya degradasi dari kualitas lahan karena pembukaan hutan. Kerusakan kualitas lahan karena pertanaman yang
bersifat permanen pada lahan yang relatif
miskin sehingga tidak dapat
dimanfaatkan lagi
tanpa adanya upaya
peningkatan kesuburan tanah. Juga terjadi erosi tanah akibat hujan deras dan musim kering yang panjang atau
banjir, dan hilangnya sumberdaya hutan
akibat adanya ladang berpindah. 18
Meskipun kerusakan sumberdaya alam tersebut dapat dicegah dandiperbaiki

jika dana tersedia, tetapi beberapa diantaranya relatif sangat mahal, sehingga
lama kelamaan menjadi tidak dapat diperbaiki sama sekali.
Kerentaan dari
ekosistem tropis telah menyebabkan kerusakan sumberdaya alam berjalan dengan cepat, dan yang lebih memprihatinkan adalah perbaikannya berjalan dengan lambat. Namun demikian masih ada
celah untuk
pencegahan kerusakan
sumberdaya alam dengan menyusun perencanaan yang
tepat dan tindakan antisipasi. Misalnya
tenaga kerja di pedesaan yang bekerja tidak penuh
atau setengah pengangguran dapat
dimobilisasi untuk membuat terasering di daerah pegunungan atau dilibatkan
dalam program reboisasi atau penghutanan kembali hutan-hutan yang telah
rusak.
Kerusakan sumber daya alam pada pertanian modern timbul terutama akibat dari penggunaan pestisida untuk pengendalian hama dan penyakit serta rerumputan, dan dari kegiatan irigasi. Pengaruh sampingan dari
penggunaan pestisida perlu dilihat secara hati- hati. Daya
racunnya terhadap ikan dan burung serta persistensi (daya tahan) dan daya jelajahnya di alam membuatnya menjadi berbahaya jauh melampaui sasaran areal dari penggunaan pestisida tersebut. Sedangkan proyek konstruksi sistem irigasi, apabila tidak sesuai dengan fasilitas drainasenya kemungkinan besar dapat meningkatkan salinasi dari air
irigasi tersebut. Bahkan penggunaan varietas unggul baru baik pada
komoditas padi, jagung, dan gandum kadangkala menimbulkan efek samping, baik karena penanaman varietas unggul tersebut
membutuhkan
pestisida dalam jumlah
banyak maupun karena varietas unggul baru tersebut menggantikan
spesies lokal
yang telah mengalami seleksi alami yang lebih cocok dengan lingkungan
setempat dan
yang diperlukan untuk proses persilangan. Pengolahan tanah secara terus menerus yang dipermudah dengan adanya mekanisasi pertanian juga dapat merusak struktur tanah. Pertanian modern tidak
dapat
melepaskan
ketergantungannya
pada produk
kimia (pupuk
dan pestisida), varietas unggul baru yang
mempunyai produktivitas tinggi dan
irigasi. Harus diupayakan agar
efek
sampingannya dapat dicegah atau diminimalkan dengan
perencanaan pembangunan
pertanian yang
komprehensif.
19

Pengukuran lengas tanah.
Sumber : balingtan.pertanian.go.id
Pengalaman menunjukkan bahwa diversifikasi
usahatani merupakan suatu langkah transisi yang efektif. Dengan langkah ini tanaman pokok
tidak lagi
mendominasi karena
tanaman perdagangan yang baru diintroduksikan
seperti sayuran, buah-buahan, kakao, kopi dan tanaman lainnya sudah mulai dijalankan bersama dengan usaha peternakan atau perikanan
secara sederhana.
Upaya diversifikasi tersebut
relatif telah meningkatkan produktifitas usahatani
yang sebelumnya sering menyebabkan
terjadinya
pengangguran tidak kentara.
Diversifikasi tanaman. Sumber : pertanian-mesuji.id
Usaha diversifikasi ini sangat diperlukan mengingat angkatan kerja di
20 pedesaan sering berlimpah dan dengan diversifikasi angkatan kerja tersebut

dapat dimanfaatkan dengan
lebih optimal. Pada
tahapan ini, pemakaian alat
dan mesin
pertanian mulai diintroduksi, demikian pula penggunaan benih varietas unggul baru, serta pupuk, pestisida dan
irigasi. Dengan demikian para petani mampu memperoleh surplus produksi yang dapat dijual serta mengurangi risiko kegagalan panen.
Seiring perkembangan budidaya pertanian, dewasa ini dengan adanya
perkembangan tehnologi, budidaya tanaman juga mulai berkembang. Dengan memanfaatkan teknologi digitalisasi.
B. Pertanian Perkotaan (Urban Farming)
Menurut FAO (Food Agriculture Organization), pertanian perkotaan merupakan industry yang memproduksi, memproses dan memasarkan produk pertanian, terutama memenuhi permintaan harian konsumen di dalam perkotaan, dengan metode produksi intensif, memanfaatkan dan mendaur ulang sumber daya
dan
limbah perkotaan untuk menghasilkan beragam tanaman kebutuhan pangan masyarakat perkotaan (Smit, J, A. Ratta, J. Nasr, 1996 dalam Setiawan, 2015).
Sumber : balitbangpertanian.go.id Sumber : Kompas.com
Gambar : Bentuk pertanian perkotaan
a. Manfaat Urban Farming
Manfaat yang didapatkan dari adanya Urban Farming, antara lain :
1. Mengurangi sampah.
Sampah-sampah organik dan limbah dapur rumah tangga apabila
dikumpulkan akan menjadi banyak sekali dan
bisa menimbulkan bau dan
21

juga bisa menyebabkan timbulnya penyakit. Sampah-sampah
limbah rumah tangga tersebut dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Selain sampah organik, rumah tangga juga dapat menghasilkan sampah anorganik
berupa wadah yang
tidak terpakai, misalnya kaleng bekas, botol bekas, ban mobil bekas, pipa
pralon, plastik bekas kemasan,
dan sebagainya. Sampah
tersebut
dapat
digunakan sebagai tempat
menanam.
2. Mengurangi polusi udara dan
suara
Gas karbondioksida (CO2) yang mencemari udara akan diserap tanaman yang akan diubah menjadi oksigen (O2) melalui fotosintesis.
Kehadiran tanaman
dalan system pertanian perkotaan terbukti efektif dapat menyerap
gelombang suara sehingga mampu mengurangi efek negative dari gelombang suara tersebut. Dalam studi “Paparan
kebisingan dan kesehatan masyarakat” terungkap bahwa
paparan kebisingan dapat mengakibatkan tunarungu, hipertensi, penyakit jantung iskemik, gangguan tidur dan penurunan prestasi sekolah pada anak.
3. Mengurangi cemaran logam
Saat ini
cemaran logam berat dan
pestisida dalam bahan pangan
menjadi salah satu ancaman bagi masyarakat kota. Untuk meminimalisir cemaran tersebut, masyarakat kota dapat menanam sendiri bahan pangan
yang akan dikonsumsi
dan mengatur penggunaan pupuk kimia menjadi pupuk organik dan
pestisida kimia menjadi pestisida nabati.
Lahan kosong yang tercemar logam berat dan
kimia seperti mercury, timbal, arsenic, uranium dapat dibersihkan dengan istilah “fitoremidiasi” yaitu menanam tanaman pada lahan yang tercemar sehingga tanaman dan mikroorganisme mendegradasi bahan kimia tersebut, menyerap dan mengkonversi dalam bentuk tersedia. Tetapi tanaman tersebut tidak untuk dikonsumsi. Setelah lahan bersih dari kontaminan
barulah digunakan untuk memproduksi bahan tanam.
4. Menambah nilai estetika kota
22

Berbagai tanaman yang ditanam akan memperindah tatanan kota dan akan meningkatkan nilai
estetika kota. Kota akan tampak menghijau dengan adanya tanaman.
5. Memberikan pendapatan tambahan
Pertanian perkotaan yang dilakukan di rumah selain dapat
mengurangi pengeluaran keluarga dalam hal pembelian bahan pangan juga
dapat menjadi mata pencaharian sampingan
keluarga.
6. Mengurangi tingkat
stress dan memperbaiki hubungan sosial
Beberapa hasil penelitian mengenai
pertanian perkotaan menunjukkan adanya penurunan adanya tingkat stress dan kesehatan mental responden
setelah beberapa
waktu
terlibat
dalam aktivitas pertanian di perkotaan. Beberapa kasus yang telah terdokumentasi menunjukkan bahwa
keberadaan kebun komunitas(komunal) dapat menyebabkan
perbaikan hubungan sosial, peningkatan kebanggaan dan kesehatan, serta penurunan
tingkat kejahatan dan bunuh diri dalam masyarakat.
7. Merupakan
sarana edukasi
Pertanian perkotaan akan memberikan wadah yang sangat nyata bagi pendidikan pertanian kepada masyarakat tua dan muda. Hal ini
meliputi kesadaran pentingnya menjaga kelestarian alam disamping pengetahuan teknologi pendukung yang diperlukan. Semua tersedia sebagai laboratorium hidup yang dapat dilihat
dan disentuh langsung oleh
para pembelajar dari berbagai kelompok usia.
8. Meningkatkan kesehatan masyarakat
Di lingkungan
perkotaan
banyak sekali
ditemukan masalah kesehatan masyarakat dalam bentuk kekurangan gizi, obesitas, diabetes, penyakit jantung dan lain-lain. Hal ini sebagian diakibatkan konsumsi
makanan yang
kurang sehat dan seimbang. Tersedianya produk lokal yang sehat serta berkualitas memberikan peluang untuk membantu mengatasi masalah kesehatan sehingga tingkat kesehatan masyarakat terjaga.
9. Pembangunan komunitas
Program dalam kegiatan pertanian perkotaan akan mempertemukan 23 berbagai komponen masyarakat yang memiliki perhatian dan
kepentingan

terhadap manfaat yang didapat. Kepentingan bersama ini akan mempererat
hubungan manusia di dalam masyarakat sehingga tercipta suasana yang kondusif untuk kerja sama saling mendukung dan saling menghargai.
Keterlibatan komunitas
akan menjadi salah satu kunci sukses penerapan
pertanian perkotaan.
10. Meningkatkan ruang terbuka hijau
Keberadaan pertanian perkotaan
akan
dapat meningkatkan kesehatan ekosistem perkotaan. Hal
ini sebagai akibat dari
estetika yang timbul karena adanya lebih banyak tanaman-tanaman yang menutupi lahan dan bangunan. Porsi lingkungan
hijau
akan
bertambah dan membawa dampak fotosintesa yang memperbaiki kualitas udara, suasana
lingkungan yang lebih alami dan
damai bagi masyarakat semua dan pada gilirannya berarti terjaga kualitas kehidupan sosial.
b. Penerapan Pertanian Perkotaan (Urban Farming)
Beberapa penerapan kegiatan pertanian perkotaan (urban farming)
diantaranya yaitu :
1. Vertikultur, merupakan
teknik bercocok tanam diruang/lahan sempit
dengan memanfaatkan bidang vertikal sebagai tempat bercocok tanam yang dilakukan secara bertingkat. Vertikultur dapat dibuat dari:
➢ Bambu atau pralon dengan posisi vertikal
➢ Talang
sistem rak
➢ Pot atau polybag
Sumber : cybex.pertanian.go.id Sumber : Kagama.id 24

![]()
![]()
2.
Hidroponik, merupakan sistem penanaman tanpa menggunakan
media tanah. Air merupakan media utama dalam budidaya secara hidroponik. Tetapi selain media
air juga bisa
menggunakan media tanam yang berupa rockwool, sekam bakar, hidroton, atau pasir dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.
Sumber : Dokumentasi pribadi
Ada
6 teknik/macam sistem budidaya Hidroponik
:
1) Teknik hidroponik sistem drip, yaitu bercocok tanaman hidroponik dengan sistem pengairan tetes.
2)
Teknik hidroponik sestem EBB dan
Flow System sering juga disebut sistem pasang surut, yaitu nutrisi diberikan dengan menggenangi
areal perakaran, dan
apabila sudah cukup
maka nutrisi dikembalikan ke penampungan.
3)
Teknik NFT (Nutrien Film Technique), yaitu dengan cara mengalirkan
nutrisi secara terus menerus .
4) Teknik
DWC (Deep Water Culture) atau sering juga disebut sistem rakit apung
(Floating Raft System), yaitu teknik
dengan cara akar
direndam dalam larutan nutrisi.
5) Teknik hidroponik sistem
sumbu
(Wick system),
dengan menggunakan sumbu sebagai penyerapan nutrisi.
6)
Teknik Aeroponik, yaitu tanaman ditumbuhkan pada area yang lembab tanpa menggunakan
air maupan media lain.
25
3. Wallgardening, yaitu budidaya tanaman dengan menanam
tanaman yang

dibuat secara tegak lurus (vertikal). Wallgardening adalah budidaya tanaman dengan memanfaatkan ruang kosong seperti pada tembok atau dinding kosong baik di dalam maupun di luar
ruangan. Wallgardening ini menjadi trend yang telah banyak ditemui terutama di kota-kota besar.
Sumber : indiamart.com
4. Tambulampot, adalah kepanjangan dari tanaman buah dalam pot yang memiliki arti yaitu tumbuhan
yang dibudidayakan didalam
pot yang tujuannya untuk hiasan ataupun untuk di produksi buahnya.
Sumber : shopee.co.id
26

5. Aquaponik, merupakan sistem
pertanian yang mengombinasikan akuakultur atau pemeliharaan hewan air dengan hidroponik.
Sumber : kompasiana.com
6.
Urban
Bee, merupakan kegiatan budidaya lebah untuk menghasilkan madu dan propolis
Sumber : najell.com
27

7. Green office dan Roof Top Garden.
Sumber : imaniadesain.com
C. Ketersediaan Pangan Global,Regional Dan Lokal
Ketahanan pangan telah menjadi isu sentral dalam kerangka pembangunan pertanian dan pembangunan Nasional. Ketahanan
pangan
diartikan sebagai tersedianya pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dana man dikonsumsi bagi setiap warga untuk menopang
aktivitasnya sehari-hari sepanjang
waktu (Handewi, 2002).
Dalam pengertian
kebijakan operasional pembangunan, Departemen Pertanian menerjemahkan ketahanan pangan menyangkut
ketersediaan, aksesibilitas (keterjangkauan), stabilitas pengadaannya. Selain aspek produksi, ketahanan
pangan
mensyaratkan pendapatan yang cukup bagi masyarakat untuk mengakses bahan pangan, keamanan pangan, serta aspek distribusi.
Dalam era globalisasi dan
perdagangan bebas yang sangat kompetitif di pasar internasional, Indonesia menghadapi tantangan
berat dalam merumuskan kebijakan pangan yang mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduk.
Kebijakan pangan yang dimaksud antara
lain adalah
upaya
mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan ragam komoditas pangan
28
dan upaya peningkatan diversifikasi konsumsi pangan. Dengan sumberdaya

yang terbatas, kebijakan untuk meningkatkan pangan dalam kaitannya mempertahankan
ketahanan pangan, berbagai sumberdaya perlu digunakan untuk menghasilkan komoditas pangan yang kompetitif dalam harga dan mutu terhadap produk impor. Dalam kondisi demikian kegiatan
produksi pangan harus berorientasi pada pasar internasional.
Pembangunan pertanian yang dilaksanakan secara konsisten selama ini
telah mampu menyediakan berbagai jenis pangan. Namun demikian, adanya kelebihan ketersediaan pangan di
tingkat wilayah (nasional, regional) tidak
menjamin adanya ketahanan pangan di tingkat individu atau rumah tangga. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh meningkatnya kasus-kasus kurang gizi dan rawan pangan sejak terjadinya krisis ekonomi. Oleh
karena itu, faktor akses
individu dalam menjangkau kebutuhan pangan yang
diperlukan merupakan faktor kunci ketahanan
pangan di tingkat rumah tangga. Akses individu terhadap pangan yang dibutuhkan sangat dipengaruhi oleh daya
beli, tingkat pendapatan, harga pangan, proses distribusi pangan, kelembagaan di tingkat lokal dan
faktor sosial lainnya.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan di tingkat lokal, terutama di masa pandemik ini lebih
khususnya ketersediaan pangan rumah tangga diantaranya pemanfaatan teknologi urban farming,
Masyarakat bisa memanfaatkan lingkungan sekitar rumah untuk menanam, dapat menerapkan vertikultur, hidroponik system wick
dengan memanfaatkan limbah botol plastic,
tambulampot, dan sebagainya. Tidak harus memiliki lahan luas, area sempit sekitar rumah dapat dioptimalkan untuk menanam sayuran, buah kebutuhan pangan rumah tangga.
D. Sustainable Farming (Pertanian Berkelanjutan)
1.
Prinsip Dasar Sistem Pertanian Berkelanjutan
Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture)
adalah pertanian yang
berlanjut untuk saat ini dan
saat yang akan datang dan
selamanya, Artinya pertanian tetap ada dan bermanfaat bagi semuanya dan tidak menimbulkan bencana bagi semuanya. Jadi dengan kata lain pertanian
yang bisa dilaksanakan saat ini, saat yang akan datang dan menjadi
29
warisan yang berharga bagi
anak cucu kita.

Ada pun definisi lain dari sistem pertanian berkelanjutan adalah
sebagai alternatif-alternatif
untuk mencapai
tujuan sistem produksi pertanian yang dapat menguntungkan secara ekonomi dan aman secara lingkungan. Sistem pertanian berkelanjutan juga dapat diartikan sebagai
keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan
kualitas lingkungan serta
konservasi sumberdaya alam.
Pertanian berwawasan lingkungan selalu memperhatikan nasabah tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan kesehatan.
Sedangkan tujuan pertanian yang berwawasan lingkungan adalah mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah; meningkatkan dan mempertahankan hasil pada aras yang
optimal; mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman
hayati dan ekosistem; dan yang lebih penting untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan penduduk dan
makhluk hidup lainnya.
Berarti dapat disimpulkan bahwa pertanian
berkelanjutan (sustainable agriculture)
adalah pertanian yang meliputi komponen- komponen fisik, biologi, sosial ekonomi, lingkungan dan manusia yang berjalan secara ideal untuk saat ini dan yang akan datang.
Setelah perang dunia
II
penggunaan bahan kimia dan rekayasa teknologi meningkat
lagi dan
mencapai puncaknya pada tahun 1970-an,
dimana pada tahun yang sama terjadi krisis energi. Semua negara
berlomba-lomba memacu produktivitas industri pertanian
untuk memenuhi bahan baku agroindustri. Semangat berkompetisi melahirkan teknologi-teknologi baru
di dunia pertanian
seperti
rekayasa genetika, kultur jaringan, dan teknologi canggih pertanian.
Di negara-negara
selatan seperti Indonesia, dicanangkan program
intensifikasi usaha tani, khususnya padi
sebagai makanan pokok,
dengan mendorong
pemakaian benih varietas unggul (high variety yield), pupuk kimia dan obat-obatan pemberantas hama dan penyakit. Kebijakkan pemerintah saat
itu memang secara jelas merekomondasaikan
penggunaan energi luar yang dikenal dengan paket Panca Usaha Tani, yang
30 salah satunya menganjurkan penggunaan pupuk kimia
dan pestisida.

Terminologi
pertanian berkelanjutan (susitainable agriculture) sebagai padanan
istilah agroekosistem pertama kali dipakai sekitar awal tahun 1980-an oleh pakar pertanian FAO
(Food
Agriculture Organization). Argoekosistem sendiri mengacu pada modifikasi ekosistem alamiah dengan sentuhan campur tangan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, serat, dan
kayu, untuk memenuhi
kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Conway (1984) juga menggunakan
istilah pertanian
berkelanjutan dengan agro ekosistem yang
berupaya memadukan antara produktivitas
(productivity), stabilitas (Stability), pemerataan (equlity). Jadi
semakin jelas bahwa konsep agroekosistem atau pertanian berkelanjutan adalah jawaban kegamangan dampak green revolution antara lain di tenggarai oleh semakin merosotnya produktivitas
pertanian.
Kegagalan pertanian modern
memaksa pakar pertanian dan lingkungan
berpikir keras dan mencoba merumuskan
kembali sistem pertanian ramah lingkungan atau back to nature. Jadi sebenarnya sistem pertanian berkelanjutan merupakan paradigma lama yang
mulai diaktualisasikan kembali menjelang
masuk abad
ke 21 ini. Hal ini merupakan
fenomena keteraturan siklus alamiah sesuai dengan pergantian
abad.
Saat ini,
negara-negara barat dilanda gelombang budaya teknologi tinggi (information technology) yang
disertai pesatnya penggunaan teknologi super canggih dalam bidang telekomunikasi, misalnya penemuan internet, telepon seluler, dan
lain sebagainya.
Sementara, negara-negara selatan
masih
berada dalam masa transisi dari gelombang
budaya pertanian ke gelombang budaya industri. Teknologi yang diadopsi oleh masyarakat manusia turut menentukkan semangat, corak, sifat, struktur, serta proses ekonomi, sosial, dan
budaya.
Ada dua peristiwa penting yang
melahirkan paradigma baru sistem pertanian berkelanjutan, peristiwa pertama adalah laporan Brundland dari
komisi Dunia tentang Lingkungan
dan Pembangunan pada tahun 1987, yang
mendefinisikan dan berupaya mempromosikan paradigma pembangunan
31 berkelanjutan. Peristiwa kedua adalah konferensi dunia di
Rio de Jenero

Brazil
pada tahun 1992, yang memuat pembahasan agenda 21 dengan mempromosikan Sustainable
Agriculture and
Rural Development (SARD) yang membawa
pesan moral pada
dunia bahwa ”without better enviromental stewardship,
development will be undermined ”berbagai agenda penting termasuk pembahasan bidang yang termasuk dalam pembahasan bidang pertanian
dalam
konferensi tersebut antara
lain
sebagai berikut :
a. Menjaga kontinuitas produksi dan keuntungan
usaha di bidang
pertanian dalam arti yang luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan,
kehutanan,
peikanan, dan peternakan)
untuk jangka
panjang,
bagi kelangsungan kehidupan manusia.
b. Melakukan perawatan dan
peningkatan SDA yang berbasis pertanian.
c. Meminimalkan dampak negatif aktivitas usaha pertanian yang dapat
merugikan bagi
kesuburan lahan dan
kesehatan manusia.
d. Mewujudkan keadilan sosoal
antar desa dan antar sektor dengan pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan.
Memasuki abad 21 ini, kesadaran akan bertani yang ramah lingkungan semakin meningkat, sejalan dengan tuntuan era globalisasi dan perdagangan bebas, hal ini terutama sekali dirasakan di negara-negara maju, misalnya negara-negara Amerika dan
negara-negara Eropa. Sementara itu negara-negara berkembang misalnya Indonesia, tampaknya masih
terpuruk dan berkutat dengan dampak negatif green revolution. Lahan-lahan sawah di pulau Jawa sebagai sentra produksi
padi menunjukkan indikasi adanya penurunan produktifitas. Sawah-sawah mengalami kejenuhan berat atau pelandaian produktivitas
karena pemakaian pupuk kimia dan obat-obatan yang
sudah melampaui ambang batas normal.
Konsep pertanian yang
berkelanjutan terus berkembang, diperkaya dan
dipertajam dengan kajian pemikiran, model, metode, dan
teori berbagai disiplin ilmu
sehingga menjadi suatu kajian ilmu terapan yang diabadikan bagi kemaslahatan umat manusia untuk generasi sekarang dan
mendatang.
32

Pertanian berkelanjutan dengan
pendekatan sistem
dan
besifat holistic (menyeluruh) mempertautkan
berbagai aspek dan disiplin ilmu yang
sudah mapan antara lain
agronomi, ekologi, ekonomi, sosial, dan budaya.
Sistem pertanian berkelanjutan juga beisi suatu ajakan
moral untuk berbuat kebajikan pada lingkungan
sumber daya alam dengan
mempertimbangkan tiga matra atau aspek sebagai berikut:
a. Lingkungan,
sistem budidaya pertanian tidak boleh mnyimpang dari sistem ekologis yang ada.
Keseimbangan merupakan indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismena dikendalikanoleh hukum alam.
b. Bernilai ekonomis, sistem budidaya pertanian harus
mengacu pada pertimbangan
untung rugi, baik bagi diri sendiri dan
orang lain, untuk jangka pandek dan jangka panjang, serta bagi
organisme dalam sistem ekologi maupun diluar
sistem ekologi.
c. Berwatak sosial
atau
kemasyarakatan, sistem pertanian harus selaras dengan norma-norma sosial dan
budaya yang dianut dan di junjung tinggi oleh masyarakat disekitarnya sebagai contoh seorang petani akan mengusahakan peternakan ayam diperkarangan milik sendiri. Mungkin secara ekonomis dan ekologis menjanjikan keuntungan yang layak, namun ditinjau dari aspek sosial dapat memberikan aspek yang kurang
baik misalnya, pencemaran udara karena bau kotoran ayam. Norma- norma sosial dan budaya harus diperhatikan, apalagi dalam sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia biasanya jarak antara perumahan penduduk dengan areal pertanian sangat berdekatan. Didukung dengan tingginya nilai sosial pertimbangan utama
sebelum merencanakan
suatu usaha pertanian dalam arti luas.
Lima kriteria untuk mengelola suatu sistem pertanian berkelanjutan a. Kelayakan ekonomis (economic viability)
b. Bernuansa dan bersahabat dengan ekologi
(accologically sound and
friendly)
33 c. Diterima secara sosial (Social just)

d. Kepantasan secara budaya (Culturally approiate)
e. Pendekatan sistem holistik (sistem and
hollisticc approach)
Prinsip Dasar Sistem Pertanian Berkelanjutan
Menurut Jaker PO (Jaringan Kerja
Pertanian Organik) dan IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement), ada 4 prinsip dasar dalam membangun gerakan pertanian berkelanjutan :
a. Prinsip ekologis
Prinsip ini mengembangkan upaya bahwa pola hubungan antara
organisme dengan alam adalah satu kesatuan. Upaya-upaya pemanfaatan air, tanah, udara, iklim serta sumber-sumber
keanekaragaman-hayati di alam harus seoptimal mungkin (tidak mengeksploitasi). Upaya-upaya pelestarian
harus sejalan dengan upaya pemanfaatan.
b. Prinsip teknis
Produksi dan
pengolahan prinsip teknis ini merupakan dasar untuk mengupayakan suatu produk
organik. Yang termasuk dalam prinsip ini mulai dari transisi lahan
model pertanian
konvensional ke
pertanian berkelanjutan, cara pengelolaannya, pemupukan, pengelolaan hama dan penyakit hingga penggunaan teknologi yang digunakan sejauh mungkin mempertimbangkan kondisi
fisik setempat.
c. Prinsip Sosial ekonomis
Prinsip ini menekankan pada penerimaan model pertanian secara
sosial dan secara ekonomis menguntungkan petani. Selain itu
juga mendorong berkembangnya kearifan lokal, kesetaraan antara perempuan dan
laki-laki, dan
mendorong kemandirian petani.
d. Prinsip Politik
Prinsip
ini mengutamakan
adanya
kebijakan
yang tidak bertentangan dengan upaya pengembangan pertanian berkelanjutan. Kebijakan ini baik dalam upaya produksi, kebijakan harga, maupun
adanya pemasaran yang adil.
34

2. Ciri-ciri sistem pertanian berkelanjutan
Pertanian berkelanjutan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Secara ekonomi menguntungkan dan dapat dipertanggung jawabkan (economically viable). Petani mampu menghasilkan keuntungan dalam tingkat produksi yang
cukup dan
stabil, pada tingkat resiko yang bisa ditolerir/diterima.
b. Berwawasan ekologis (ecologically sound).
Kualitas agroekosistem dipelihara
atau ditingkatkan, dengan
menjaga keseimbangan ekologi serta konservasi keanekaragaman hayati. Sistem pertanian yang
berwawasan ekologi adalah sistem yang sehat dan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap tekanan dan gangguan (stress dan shock).
c. Berkeadilan sosial.
Sistem pertanian yang
menjamin terjadinya
keadilan dalam akses dan kontrol
terhadap lahan, modal, informasi, dan pasar, bagi
yang terlibat tanpa membedakan status sosial-ekonomi, gender, agama atau kelompok etnis.
d. Manusiawi dan
menghargai budaya lokal.
Menghormati eksistensi dan memperlakukan dengan bijak semua
jenis mahluk yang
ada. Dalam pengembangan
pertanian tidak melepaskan diri dari
konteks budaya
lokal dan menghargai tatanan nilai, spirit dan
pengetahuan lokal.
e. Mampu berdaptasi (adaptable).
Mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi yang
selalu berubah, seperti pertumbuhan populasi, tantangan kebijaksanaan yang baru
dan perubahan konstalasi (kumpulan
orang yang saling
berhubungan) pasar.
Berdasarkan Lembaga Konsultasi Penelitian Pertanian Internasional, pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah,
sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan 35 melestarikan sumber daya
alam. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

a. Mantap secara ekologis, berarti kualitas sumber daya
alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem
secara keseluruhan mulai dari
manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah ditingkatkan. Berarti tanah
harus dikelola dan
kesehatan tanaman dan
hewan serta masyarakat dipertahankan melalui proses biologis. Sumber daya
lokal digunakan secara ramah dan dapat diperbaharui.
b. Dapat berlanjut secara ekonomis.
c. Adil, yang berarti sumber
daya dan kekuasaan didistribusikan
sedemikian rupa sehingga keperluan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi dan begitu pula hak mereka dalam penggunaan lahan dan
modal yang memadai serta bantuan teknis yang terjamin.
d. Manusiawi, menghargai martabat
dasar semua makhluk hidup dan menghargai budaya lokal.
e. Luwes, masyarakat memiliki kemampuan dalam menyesuaikan diri
(mampu beradaptasi) dengan perubahan kondisi usaha pertanian.
f. Secara ekonomi menguntungkan
dan dapat dipertanggung jawabkan. Para petani mampu menghasilkan keuntungan dalam tingkat produksi yang cukup dan stabil, pada tingkat
resiko yang masih bisa ditolelir/diterima.
g. Berkeadilan sosial, ini yang
sering mendapat hambatan, sistem ini harus menjamin
terjadinya keadilan dalam akses dan
kontrol terhadap lahan, modal, informasi dan
pasar bagi
yang terlibat, tanpa
membedakan status sosial, ekonomi, jenis kelamin, agama, maupun
etnis.
3. Sifat-sifat sistem pertanian berkelanjutan
Pertanian
berkelanjutan memiliki lima sifat, diantaranya:
a. Mampertahankan fungsi ekologis, artinya tidak
merusak ekologi pertanian itu sendiri.
b. Berlanjut secara ekonomis artinya mampu memberikan nilai
yang
layak bagi pelaksana
pertanian itu dan tidak ada pihak
yang
36

diekploitasi. Masing-masing pihak mendapatkan hak sesuai dengan partisipasinya.
c. Adil berarti setiap pelaku pelaksanan pertanian mendapatkan hak- haknya tanpa dibatasi dan dibelunggu dan
tidak melanggar hal yang lain.
d. Manusiawi
artinya menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, dimana harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi termasuk budaya yang telah ada.
e. Luwes yang berarti mampu
menyesuaikan
dengan situasi
dan kondisi saat
ini, dengan demikian pertanian
berkelanjutan tidak statis tetapi
dinamis bisa mengakomodir keinginan konsumen maupun produsen.
4. Indikator Sistem pertanian berkelanjutan
Berikut ini merupakan indicator system pertanian berkelanjutan :
a. Menghasilkan
produk pertanian yang berkualitas dengan kuantitas memadai.
b. Membudidayakan tanaman secara alami.
c. Mendorong dan
meningkatkan siklus hidup biologis
dalam ekosistem pertanian.
d. Memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah jangka
panjang.
e. Menghindarkan
seluruh bentuk cemaran yang diakibatkan penerapan teknik pertanian.
f. Memelihara keragaman genetik sistem pertanian.
5. Aplikasi pertanian berkelanjutan
Beberapa kontribusi
dalam
meningkatkan keuntungan produktivitas pertanian dalam jangka
waktu panjang, meningkatkan kualitas lingkungan
dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan sebagai berikut :
a. Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
Pengendalian hama terpadu dapat dikombinasikan dengan beberapa
metode, yaitu biologi, budaya, fisik dan kimia, dalam upaya
37

meminimalkan
biaya,
kesehatan dan resiko
lingkungan sebagai berikut:
• Penggunaan insektisida, reptil atau binatang yang dapat mengendalikan hama atau dikenal musuh alami hama.
• Menggunakan tanaman
sebagai perangkap hama, berfungsi sebagai pemikat yang akan menjauhkan
hama dari tanaman
utama.
• Menggunakan mulsa dan drainase sebagai metode alami yang dapat menurunkan infeksi jamur, dalam upaya menurunkan kebutuhan terhadap fungisida sintetis.
• Melakukan rotasi
tanaman
untuk
memutuskan
populasi
pertumbuhan dan perkembangan hama setiap tahun.
b. Sistem Rotasi dan Budidaya Rumput
Sistem pengelolahan budidaya rumput intensif adalah dengan memberikan tempat bagi bintang ternak di luar areal pertanian yang ditanami rumput berkualitas tinggi dan
secara tidak langsung dapat menurunkan biaya pemberian pakan. Selain itu, sistem rotasi pula dapat memberikan waktu
bagi pematangan pupuk organik. Hal ini tentunya saling menguntungkan bagi para petani.
c. Konservasi Lahan
Beberapa
metode konservasi
lahan
termasuk penanaman alur, mengurangi atau tidak melakukan
pembajakan lahan, dan pencegahan tanah hilang baik oleh erosi angin maupun erosi air. Kegiatan
konservasi lahan dapat meliputi:
• Menciptakan jalur-jalur konservasi.
• Menggunakan DAM penahan erosi.
• Melakukan penterasan.
• Menggunakan pohon-pohon
dan semak untuk menstabilkan
tanah.
d. Menjaga Kualitas Air/Lahan Basah
Konservasi dan perlindungan sumberdaya air telah menjadi bagian 38 penting dalam pertanian. Banyak diantara kegiatan-kegiatan

pertanian yang
telah dilaksanakan tanpa memperhatikan kualitas air. Biasanya lahan basah berperan
penting dalam melakukan penyaringan nutrisi (pupuk anoraganik) dan pestisida. Adapun langkah-langkah yang
ditujukan untuk menjaga kualitas air, antara
lain;
• Mengurangi tambahan senyawa kimia sintetis ke dalam lapisan tanah bagian
atas (top soil)
•
Menggunakan
irigasi tetes (drip irrigation).
•
Menggunakan
jalur-jalur konservasi
sepanjang tepi saluran air.
• Melakukan penanaman
rumput bagi binatang ternak
untuk mencegah peningkatan racun akibat aliran air
limbah pertanian
yang terdapat pada peternakan intensif.
e. Tanaman Pelindung
Penanaman tanaman-tanaman seperti gandum dan semanggi pada
akhir
musim panen
tanaman sayuran atau sereal, dapat
menyediakan beberapa manfaat termasuk menekan pertumbuhan gulma (weed), pengendalian erosi, dan meningkatkan nutrisi dan
kualitas tanah.
f. Diversifikasi Lahan dan
Tanaman
Bertanam dengan memiliki varietas yang cukup banyak di lahan pertanian dapat mengurangi kondisi ekstrim dari cuaca, hama penggangu tanaman,
dan harga pasar. Peningkatan diversifikasi tanaman dan jenis tanaman lain seperti pohon-pohon dan rumput- rumputan, juga dapat memberikan
kontribusi terhadap konservasi lahan, habitat binatang, dan meningkatkan populasi serangga yang bermanfaat.
Beberapa langkah kegiatan yang dapat dilakukan :
• Menciptakan sarana
penyediaan air, yang
menciptakan lingkungan bagi katak, burung dan binatang-binatang lainnya yang memakan serangga dan insekta.
• Menanam tanaman-tanaman yang
berbeda untuk meningkatkan
pendapatan sepanjang tahun dan
meminimalkan pengaruh dari
39 kegagalan menanam sejenis tanaman saja.

g. Pengelolaan Nutrisi Tanaman
Pengelolaan nutrisi tanaman
dengan
baik
dapat meningkatkan kondisi tanah
dan melindungi lingkungan tanah. Peningkatan penggunaan sumberdaya nutrisi di lahan pertanian, seperti pupuk kandang dan tanaman kacang-kacangan
(leguminoceae) sebagai penutup tanah dapat mengurangi biaya pupuk anorganik yang harus dikeluarkan.
Beberapa jenis pupuk organik yang bisa digunakan antara lain:
• Pengomposan
• Penggunaan kascing
• Penggunaan pupuk hijau (dedaunan)
• Penambahan
nutrisi pada
tanah
dengan emulsi ikan dan rumput laut.
h. Agroforestri (wana tani)
Agroforestri adalah suatu sistem tata guna lahan yang
permanen, dimana
tanaman semusim maupun tanaman tahunan ditanam bersama atau dalam rotasi membentuk suatu tajuk yang
berlapis, sehingga sangat efektif untuk melindungi tanah dari hempasan air
hujan. Sistem
ini akan memberikan
keuntungan baik secara ekologi maupun ekonomi.
Beberapa keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri ini antara lain:
• Dapat diperoleh secara berkesinambungan hasil tanaman- tanaman musiman dan tanaman-tanaman tahunan.
• Dapat dicegah terjadinya serangan hama secara total yang sering terjadi pada tanaman satu jenis (monokultur).
• Keanekaan jenis tanaman yang terdapat pada sistem agroforestri memungkinkan terbentuknya stratifikasi tajuk yang mengisi
ruang secara berlapis ke arah vertikal. Adanya struktur stratifikasi
tajuk seperti ini dapat melindungi tanah dari hempasan air hujan,
karena energi kinetik air hujan setelah melalui lapisan tajuk yang 40

berlapis-lapis menjadi semakin kecil daripada energi kinetik air
hujan yang jatuh bebas.
E. PERKEMBANGAN ALAT MESIN PERTANIAN
![]()
![]()
Pada zaman purba orang belum mengenal cara bercocok tanam, manusia hanya mengambil bahan makanan
yang dihasilkan alam. Namun untuk mengambil bahan makananpun
memerlukan alat. Pada zaman
ini
manusia menggunakan
alat-alat yang terbuat dari batu.
![]()
![]()
Alat-alat yang digunakan pada masa ini antara lain: Kapak perimbas untuk merimbas kayu, menguliti binatang, dan
memecah tulang. Kapak
genggam untuk menggali umbi dan memotong hewan buruan. Alat serpih
digunakan
sebagai pisau.
Kapak perimbas, Sumber : kompas.com
Kapak
genggam, Sumber :
Idsejarah.net
![]()
![]()
![]()
![]()
Karena kebutuhan pangan
terus meningkat, maka manusia mulai mengenal cara bercocok tanam walaupun masih sangat sederhana. Alat bercocok tanam yang
digunakan pada saat itu masih berasal dari
batu yang dihaluskan misalnya beliung persegi untuk menebang kayu dan mencangkul.
Kapak lonjong untuk mengolah tanah.
41


Kapak/beliung persegi, Sumber Idsejarah.net
![]()
![]()
![]()
Seiring perkembangan peradapan manusia dan cara bercocok tanam maka mulailah terjadi perkembangan alat yang tadinya hanya berasal dari batu, mulai berkembang alat-alat yang berasal dari logam walaupun jumlahnya sedikit, karena ketersediaan logam terbatas. Alat-alat pertanian berasal dari logam masih berkembang sampai sekarang, dan masih banyak
digunakan
dalam kegiatan bercocok tanam.
Berikut ini adalah contoh alat-alat pertanian yang masih banyak
digunakan secara konvensional :
a. Cangkul adalah alat bercocok tanam tradisional yang berfungsi untuk menggali tanah, memindahkan, maupun meratakan
tanah serta membersihkan tanah tempat
tanaman bertumbuh dari rumput.
b. Kipas
adalah
alat bercocok
tanam tradisional yang berfungsi untuk membersihkan
padi yang
sudah dipanen
dengan cara mengipas padi
c. Bajak
adalah alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin
yang berfungsi
untuk menggemburkan tanah
/ lahan sebelum ditanami dengan bibit tanaman.
d. Sekop adalah
alat
bercocok tanam
yang berfungsi untuk untuk memindahkan tanah dari satu tempat ke tempat lain.
e. Sabit
adalah alat bercocok
tanam
tradional berfungsi untuk memanen padi yang sudah matang dengan memotong batang padi
pada bagian bawah.
f. Ani-ani adalah alat bercocok tanam tradisional berupa sebuah pisau
42 kecil yang berfungsi untuk memanen padi dengan cara memotong

tangkai bulir padi yang sudah matang.
Dengan perkembangan budidaya tanaman untuk memanen padi dilakukan dengan menggunakan sabit
g. Lesung air berfungsi untuk menumbuk padi yang telah dipanen agar
terkelupas dan
menjadi beras.
h. Tongkat kayu / tugal adalah alat bercocok tanam tradisional dengan ujung runcing yang berfungsi untuk membuat
lubang pada tanah yang akan ditanami
bibit tanaman dengan cara menumbuk tanah.
i. Garu. Tahap
kedua dalam
mengolah tanah dilakukan
dengan menggunakan garu. Hasilnya, tanah akan menjadi jauh lebih gembur dan rata, tata kelola
air menjadi jauh lebih
baik, tanaman liar yang menganggu dan berpotensi merusak hasil pertanian juga hancur.
Ada beberapa jenis garu yang biasa digunakan:
1. Garu Sisir -> Garu sisir lazim digunakan
pada tanah bongkah
untuk membuatnya lebih subur. Namun, penggunaannya akan lebih optimal pada saat lahan pertanian tersebut masih
basah setelah diolah menggunakan alat pembajak
2.
Garu Piring -> Garu ini dimanfaatkan untuk
memangkas rumput pada permukaan
tanah yang akan ditanami,
menghancurkan lapisan tanah
sehingga lebih lembut dan siap untuk ditanami. Setelah benih disebar, garu piring juga dapat
digunakan untuk menutup
biji tersebut agar sepenuhnya tertimbun tanah.
3. Garu Paku
-> Memiliki
gigi-gigi yang
menyerupai paku,
garu jenis
ini dimanfaatkan untuk meratakan serta menghaluskan tanah setelah dibajak. Apabila telah masanya untuk menyiangi
tanaman
yang baru tumbuh, para petani juga bisa
menggunakan alat ini.
43


Pacul. Sumber : faceboook.com Garu tanah. Sumber :
shopee.co.id

Sabit . sumber : blibli.com Bajak. Sumber :
jatengprov.go.id
Kipas. Sumber : facebook.com Ani-ani. Sumber :
kompasiana.com
44


Lesung. Sumber : republika.co.id Tugal. Sumber : infopublik.id
Dengan berkembangnya teknologi saat ini, pekerjaan para petani juga semakin dimudahkan dengan hadirnya alat-alat pertanian modern yang bisa digunakan seperti di bawah ini:
a. Traktor adalah alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menggemburkan tanah yang
akan ditanami dengan bibit tanaman.
Sumber : quick.co.id
b. Rotavator adalah alat bercocok
tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk
menggemburkan tanah dengan cara
memotong, membolak – balik, dan mencacah
tanah.
45

Sumber : solidworld.com
c. Mesin penanam jagung. Mesin penanam jagung
adalah
alat
bercocok tanam modern dengan
bantuan mesin
yang berfungsi untuk menanam bibit jagung.
Sumber : shopee.co.id
d. Mesin penanam
padi. Mesin penanam
padi adalah alat bercocok tanam
modern dengan
bantuan
mesin yang berfungsi
untuk
menanam bibit tanaman padi yang masih tumbuh kecil.
Sumber : jatengprov.go.id
46

e. Pompa irigasi adalah
salah satu alat bercocok
tanam yang berfungsi untuk mengairi lahan tanaman sehingga tanaman
bertumbuh dengan baik.
Sumber : klikglodok.com
f. Power weeder adalah salah satu
alat
bercocok
tanam
modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk mebersihkan gulma atau tanaman penganggu dari lahan tanaman.
Sumber : amazon.in
g. Thereser adalah salah satu alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk membersihkan padi yang telah
dipanen dari sisa kotoran.
47
Sumber : facebook.com

h. Mesin pengering padi adalah salah satu alat
bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk mengeringkan padi yang masih lembab atau basah yang baru dipanen dari sawah.
Sumber : shopee.co.id
i. Harvester
adalah salah satu alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk
memanen padi dengan cara
memotong padi dan merontokkan batang
dan daunnya hingga menghasilkan padi tanpa batang dan
daun.
Sumber : trelleborg.com
j. Mesin semprot adalah salah satu alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menyemprot tanaman dengan pupuk cair sebagai sumber makanan
tamabahan pada tanaman
maupun menyemprot tanaman dengan obat pengusir /
pemberantas hama.
48

Sumber : amtast.id
k. Mesin penebar pupuk adalah salah satu alat
bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menyebarkan pupuk berbentuk serbuk pada tanaman.
Sumber : id.wikipedia.org
SMART FARMING
Smart farming adalah sistem pertanian berbasis teknologi yang dapat membantu petani meningkatkan hasil panen secara kuantitas dan kualitas. Smart farming merupakan metode pertanian
cerdas berbasis teknologi. Terdapat
beberapa teknologi pertanian yang digunakan di antaranya penyiraman otomatis, drone sprayer (drone penyemprot pestisida dan pupuk cair), drone surveillance (drone untuk pemetaan lahan) serta soil
and weather sensor (sensor tanah dan cuaca).
49

Drone sprayer
Sumber : bushhguidelines.org
FARMING, PRESISI, DAN TERINTEGRASI
Penerapan metode smart farming 4.0 bukan sekedar tentang penerapan teknologi pertanian. Namun, kunci utama dari metode ini adalah
tentang data yang terukur. Apa saja yang
dibutuhkan tanaman
untuk mencapai
hasil produksi yang optimal? Apa yang harus dilakukan petani?
Semua pertanyaan ini bisa dijawab dengan penerapan metode
smart farming 4.0.
Keberadaan sensor tanah
dan
cuaca yang terpasang
di lahan pertanian, akan membantu
petani dalam
mendapatkan
data
tentang tanamannya. Data
yang dapat diperoleh dari sensor ini di antaranya seperti kelembapan udara dan tanah, suhu, pH tanah, kadar air, curah hujan,
hingga kecepatan angin. Data tersebut dapat digunakan petani untuk memantau
kondisi lahannya.
50

Sistem irigasi pintar ECOMOTION. Sumber : faceboook.com
Sistem Irigasi Pintar
ENCOMOTION misalnya, suatu
sistem yang
digunakan untuk melakukan penyiraman secara tepat dan presisi. Sistem irigasi pintar ENCOMOTION ini
menggunakan dua alat yang bernama SiJamoor dan
SiRamot. Sijamoor berperan sebagai sensor untuk memantau kondisi lingkungan sekitar tanaman sedangkan SiRamot berperan sebagai
alat
yang mengatur jumlah air yang akan diberikan pada tanaman.
Pada dasarnya, SiJamoor
merupakan sensor cuaca yang akan memantau dan mengumpulkan
data secara berkala
mengenai suhu, kelembapan, intensitas cahaya, curah hujan,
serta kecepatan dan arah angin. Kemudian data tersebut secara
otomatis akan terkirim
dan tersimpan pada dashboard dan
aplikasi Encomotion. Kemudian data
tersebut akan digunakan oleh SiRamot (alat pengatur) untuk menentukan jumlah air yang diberikan pada
tanaman. Penyiraman otomatis
akan dilakukan oleh sistem irigasi pintar pada pukul 8 pagi dan
4 sore.
Penerapan metode smart farming 4.0 bisa jadi solusi bagi
berbagai permasalahan di sektor pertanian Indonesia. Masa depan pertanian
Indonesia adalah pertanian yang cerdas berbasis teknologi.
51

PENERAPAN INTERNET OF THINGS (IoT) SOLUSI DI
SEKTOR PERTANIAN
Penerapan Internet of Things (IoT) pada sektor pertanian menjadi gagasan baru yang harus dikembangkan
dan sangat
tepat untuk direalisasikan pada
sektor
pertanian.
Karena
Internet of Things (IoT) mampu menjawab semua permasalahan yang dimiliki oleh petani. Sensor- sensor yang dimiliki Internet of Things (IoT) dalam sektor pertanian mampu mendeteksi
tingkat
kesuburan
tanah,
pengendalian
penyakit maupun hama. Kemudian, teknologi wireless yang
ada pada Internet of Things (IoT)
mampu mendeteksi cuaca dan iklim. Selain itu, teknologi Internet of Things (IoT) mampu melakukan
penjadwalan otomatisasi penyiraman, penyemprotan pestisida dan
pemupukan. Dengan berbagai kekuatan yang ada pada Internet of Things (IoT) menjadi potensi dan solusi yang
sangat besar untuk
mendukung dan
membantu petani di Indonesia. Perkembangan IoT
Perkembangan teknologi di
dunia semakin pesat seiring
maraknya digitalisasi di berbagai
sektor. Tantangan bagi
pelaku bisnis
yaitu bagaimana sistem yang digunakan
dapat mudah diakses dimana saja dan kapan saja. Sehingga hal itu
mendorong tumbuhnya teknologi Internet of Things (IoT).
Internet of Things (IoT) mendeskripsikan jaringan objek fisik yang terpasang
dengan sensor, perangkat lunak, dan teknologi lain. Tujuannya yaitu untuk menghubungkan dan bertukar data dengan perangkat sistem lain melalui internet. “Konsep pertanian presisi tidak terlepas
dari IoT, Data yang
ada di
lapangan dikumpulkan oleh berbagai sensor di lapangan. Data yang dikirim melalui internet untuk diolah dan dibuat keputusan lebih
lanjut (
Wibowo, N.H., dalam Permana 2019).
Penerapan Internet of
Thing (IoT) pada pertanian
dapat
berupa
teknologi sensor untuk penggunaan air, sensor untuk mendeteksi serangan hama, dan
juga sensor
yang mengetahui emisi
lingkungan. Dengan penerapan tersebut hasil pertanian dapat meningkat dengan pesat dan
akurat. Selain itu,
IoT dapat mempermudah pengawasan lahan produksi
52 melalui smartphone.

Manfaat penggunaan IoT
pada sektor pertanian
Penggunaan IoT bisa mewujudkan pertanian presisi (precision farming) dan
irigasi pintar. Artinya, melalui
penggunaan
sensor yang diterapkan di lahan pertanian memungkinkan petani mendapatkan informasi detail topografi, tingkat kesuburan, tingkat keasaman hingga
suhu tanah, bahkan dapat mengukur cuaca serta memprediksi pola cuaca.
Tantangan penerapan IoT pada sektor pertanian
IoT memiliki tantangan berupa terbatasnya daya
listrik dan perangkat komunikasi di lapangan. Hal tersebut karena
sebagian besar daerah pertanian di Indonesia berada di remote area yang terbatas infrastrukturnya. Pada
saat penerapannya pun masih ada tantangan yang dihadapi, yaitu mengedukasi petani dalam penggunaan teknologi ini untuk mendukung kegiatan/operasional mereka sehari-hari. Untuk
mengatasi tantangan tersebut diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik pemerintah, swasta maupun petani itu sendiri.
Dengan berkembangnya Internet of Things (IoT) pada sektor pertanian maka
berpotensi pada
peningkatan produktivitas pertanian, meningkatkan ketertarikan golongan milenial dalam bertani, dan dampak positif lingkungan
seperti penggunaan air yang akurat. Namun, tantangan penerapan IoT perlu dihadapi oleh kita semua untuk kemajuan pertanian di Indonesia.
F. Penerapan Bioteknologi Dalam Pertanian
1. Pengertian Bioteknologi
Bioteknologi berasal dari kata bios yaitu hidup, teuchos yaitu alat dan logos
yaitu ilmu, sehingga dapat dikatakan bahwa bioteknologi adalah
ilmu yang mempelajari penerapan prinsip-prinsip
biologi. Menurut European
Federation of Biotechnology (EFB), bioteknologi
sebagai
perpaduan dari ilmu
pengetahuan alam dan ilmu
rekayasa yang
bertujuan
53

untuk
meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan barang dan
jasa.
Menurut
IGA. Maya Kurnia
(2014) Bioteknologi
adalah pemanfaatan dan/atau perekayasaan proses biologi dari suatu agen biologi untuk menghasilkan
produk dan jasa yang bermanfaat bagi manusia karena di dalamnya terdapat perekayasaan proses, termasuk rekayasa genetika. Bioteknologi sebenarnya sudah dikerjakan manusia sejak ratusan tahun yang lalu, dengan menggunakan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur ragi
untuk membuat makanan
bermanfaat
seperti tempe, roti, anggur, keju, dan yoghurt. Namun istilah bioteknologi baru berkembang setelah Pasteur menemukan proses fermentasi dalam pembuatan anggur. Di bidang pertanian, mikroorganime digunakan sejak abad ke-19 untuk mengendalikan hama serangga dan
menambah kesuburan tanah.
Mikroorganisme juga sudah
digunakan
secara luas
didalam mengolah limbah industri dalam dasawarsa ini.
2. Jenis Bioteknologi
a. Bioteknologi konvensional
Bioteknologi
konvesional adalah
bioteknologi yang
memanfaatkan mikroorganisme secara langsung untuk menghasilkan suatu produk, proses bioteknologi konvensional ini
lebih dikenal dengan istilah fermentasi. Fermentasi merupakan proses produksi energi tanpa oksigen (anaerob) namun seiring berkembangnya teknologi istilah
fermentasi meluas menjadi
semua proses yang
melibatkan mikroorganisme untuk
menghasilkan
suatu produk baik metabolit primer atau metabolit sekundernya. Contoh produk hasil fermentasi
yaitu yoghurt, keju, bir, tape dan
tempe. Dalam dunia pertanian
bioteknologi
konvensional dapat digunakan untuk
membuat
pupuk
kompos, pupuk kandang dan
biogas melalui proses fermentasi dengan
bantuan mikroorganisme.
54

b. Bioteknologi modern.
Bioteknologi modern erat
kaitannya dengan
rekayasa genetika, dalam bidang pertanian bioteknologi
mempunyai tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan perbaikan sifat-sifat suatu tanaman
pada level gen. Secara keseluruhan bioteknologi dalam bidang pertanian
bertujuan untuk menjaga
ketahanan pangan.
Aplikasi bioteknologi dalam bidang pertanian dapat membantu dalam percepatan produksi benih, perbaikan sifat-sifat tanaman, hingga menghasilkan jenis tanaman baru. Semua itu bisa dihasilkan dengan
cara rekayasa genetika dan kultur jaringan.
3. Penerapan Bioteknologi di bidang Pertanian
Penerapan bioteknologi mulai dari bioteknologi konvensional sampai
dengan bioteknologi modern, sudah banyak sekali
diterapkan
di bidang
pertanian.
Beberapa contoh penerapan bioteknologi di bidang pertanian antara lain :
a. Pupuk Organik
Pupuk
organik merupakan
pupuk yang berasal
dari sisa-sisa makhluk hidup yang sudah terdekomposisi. Ada dua jenis pupuk
organik yaitu pupuk organik padat dan
pupuk organik cair (POC).
Dalam proses pembuatan
pupuk
organik
dibantu oleh mikroorganisme untuk mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Mikroorganisme yang
sering digunakan di bidang pertanian adalah Efektif Mikroorganism 4 (EM 4). Bakteri terdiri dari sekumpulan bakteri yang berasal dari genus Lactobacillus dan
Saccharomyces.
b. Pestisida hayati
Pestisida hayati
merupakan pestisida yang
memanfaatkan mikroorganisme
hidup sebagai agen hayati pengendali OPT. Agen tersebut dapat berupa virus atau fungi. Terdapat lebih dari 70000 spesies organisme pengganggu tanaman dan 10% di antaranya tergolong hama dan
penyakit
utama yang merugikan secara ekonomi. Dengan jumlah begitu banyak
maka perlu dilakukan
pengendalian.
Umumnya
petani melakukan
55

pengendalian dengan cara kimia. Pengendalian organisme pengganggu tanaman hendaklah dilakukan secara terpadu.
Pengendalian secara kimia merupakan alternatif terakhir
dalam metode pengendalian OPT secara terpadu. Selain itu pengendalian
secara kimia memang sangat cepat dan praktis dilakukan namun di samping
kepraktisannya
pengendalian
secara kimia membutuhkan biaya yang mahal. Pengendalian secara kimia juga dapat menyebabkan hama menjadi resisten terhadap suatu bahan kimia. Hama resisten sendiri muncul karena dari sekian banyak hama yang dikendalikan dengan metode kimiawi masih terdapat hama
yang bertahan walaupun jumlahnya sedikit. Oleh karena itu pestisida hayati diterapkan guna mengurangi dampak yang
ditimbulkan dari pengendalian secara kimiawi.
Beberapa penerapan biopestisida hayati antara lain adalah cendawan entomopatogen yang dijadikan sebagai bioinsektisida. Terdapat lebih
dari
700 spesies cendawan yang memiliki sifat patogen terhadap berbagai jenis
spesies serangga. Diantaranya adalah cendawan
entomopatogen
dari genus Aschersonia telah diidentifikasi untuk pengendalian serangga yang
berukuran
kecil seperti kutu dan larva. Cendawan ini dapat
dipertimbangkan sebagai jamur prospektif untuk
memanajemen lalat buah.
Hal ini disebabkan toleransinya terhadap kelembaban, ketahanan terhadap musuh alami dan kemampuan menginfeksi serangga penghisap tumbuhan dengan membunuh
serangga baik
secara langsung
ataupun sekunder. Cendawan entomopatogen Aleyrodis juga mempunyai
banyak inang termasuk kutu kebul (Bemisia tabaci) yang merupakan factor utama penyakit virus
pada tanaman kedelai. dengan adanya penerapan bioteknologi di bidang pertanian dapat meningkatkan dan memajukan sektor pertanian di Indonesia.
c. Rekayasa genetika
Rekayasa genetika adalah suatu usaha memanipulasi suatu
gen organisme untuk tujuan tertentu, dengan cara menghilangkan atau menambahkan suatu gen
sehingga menghasilkan organisme dengan sifat-
sifat yang diinginkan. Organisme yang
telah direkayasa genetikanya sering
56 disebut dengan Genetic Modified Organism (GMO). Contoh bioteknologi dalam

bidang pertanian yang berupa tanaman
GMO yang ada di sekitar
kita diantaranya adalah:
• Jagung manis. Jagung manis yang kita konsumsi saat ini merupakan jagung hasil rekayasa genetika.
Pada jagung manis gula
yang terkandung direkayasa untuk tidak diubah menjadi pati sehingga tetap manis dan berair.
• Pepaya California, pepaya ini juga merupakan hasil rekayasa genetika
oleh seorang profesor dari IPB, yang memiliki kelebihan rasa lebih manis dan
cepat berbuah.
• Golden
rice,
pada tanaman padi ini
disisipkan gen penghasil beta karoten dari
tanaman wortel, sehingga padi ini memiliki kelebihan selain mengandung karbohidrat juga memiliki kandungan vitamin A.
• Kapas yang resisten terhadap Bt toksin, pada tanaman kapas ini
telah disisipkan gen Bt toksin sehingga aman dari hama.
• Kedelai impor yang
menjadi bahan baku dari tempe dan
tahu, kedelai ini telah disisipkan dengan gen EPSPS sehingga kedelai impor ini tahan terhadap herbisida berbahan glifosfat. Selain itu
kelebihan lainnya adalah harganya lebih murah karena selalu tersedia di pasaran.
Jagung dan Kedelai Hasil Rekayasa Genetika.
Sumber : bbppmbtph.tanamanpangan.pertanian.go.id
d. Kultur jaringan
Selain rekayasa genetika, kultur jaringan juga memiliki peran dalam
bidang bioteknologi pertanian. Kultur jaringan digunakan untuk 57 memperbanyak tanaman hasil rekayasa genetika dan juga untuk

menyediakan benih unggul yang selalu tersedia sepanjang waktu yang tidak dapat dipenuhi dengan perbanyakan tanaman secara konvensional. Selain
itu kultur jaringan juga digunakan untuk menghasilkan benih tanaman
dalam waktu relatif cepat dan
dalam jumlah banyak yang tidak tergantung kondisi musim atau cuaca.
Kultur jaringan sendiri bukanlah
suatu ilmu, melainkan suatu teknik yang
sangat penting dalam bidang bioteknologi pertanian. Kultur jaringan
merupakan teknik menumbuhkan tanaman dari bagian tanaman
yang dapat berupa sel, jaringan atau organ yang ditanam dalam media tumbuh dalam kondisi lingkungan yang aseptis sehingga tumbuh menjadi tanaman utuh. Media
tumbuh yang digunakan pada kultur jaringan berisi
nutrisi makro, mikro, dan
vitamin yang dibutuhkan oleh tanaman seperti layaknya yang ada dalam tanah.
Sumber : ilmudasar.id
Pengertian
lain
mengenai kultur
jaringan adalah metode perbanyakan tanaman secara vegetatif
dengan teknik menumbuhkan eksplan pada medium yang mengandung zat hara yang
sesuai dengan kebutuhan eksplan pada kondisi yang aseptik dan
lingkungan yang terkendali.
Eksplan adalah
bahan tanam yang
dapat berupa protoplasma (sel yang sudah dihilangkan dinding selnya), jaringan, organ, dan embrio. Kondisi aseptik yaitu ruangan, media, alat tanam, dan
eksplan harus dalam
kondisi aseptik (keadaan bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit). 58

Lingkungan terkendali maksudnya
adalah
suhu
dan cahaya terkendali.
Langkah-langkah dalam melakukan kultur jaringan adalah sebagai berikut:
1. memilih tanaman induk sebagai sumber eksplan ( tanaman yang dipilih
adalah tanaman yang sudah jelas jenis, varietas, spesies, dan juga bebas dari hama dan penyakit).
2. melakukan inisiasi kultur
3. melakukan sterilisasi pada seluruh alat yang digunakan dan juga bahan tanam.
4. multiplikasi atau penggandaan tunas atau embrio tanaman
5. pengakaran
6. aklimatisasi atau pemindahan eksplan ke lahan tanam.
Ilustrasi langkah-langkah melakukan kultur jaringan
Sumber : zonasiswa.com
Aplikasi bioteknologi lainnya dapat digunakan untuk menciptakan pertanian yang berkesinambungan, dengan cara mengurangi ketergantungan pertanian terhadap bahan kimia. Berbagai macam
riset bioteknologi terus dilakukan untuk
menemukan produk pertanian yang dapat meningkatkan produksi maupun dapat
59
menjadi solusi terhadap permasalahan pertanian lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Abay, U, . 2020. Aplikasi Bioteknologi Dalam Dunia
Pertanian. https://www.swadayaonline.com/artikel/6421/Aplikasi-Bioteknologi-dalam- Dunia-Pertanian/ , diakses tanggal 25 September 2021
Handewi, P.S.R., Mewa,
A., 2002. Ketahanan Pangan : Konsep, Pengukuran dan
Strategi, FAE,
Volume 20 No.1 : 12-24. Bogor
Kurnia,
IGA.M. 2014. Bioteknologi Pertanian,
https://distan.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/bioteknologi - pertanian-76 , diakses tanggal 25 September 2021.
Kusmiadi, E., 2014. Pengantar Ilmu Pertanian, repository.ut.ac.id
Permana, A. 2019. Alumni ITB Ciptakan Inovasi Alat Precision Farming, https://www.itb.ac.id/news/read/57142/home/alumni-itb-ciptakan-inovasi- alat-precision-farming , diakses tanggal 25 September 2021.
Rivai, R.S., Iwan, S.A., 2011. Konsep Dan
Implementasi Pembangunan Pertanian
Berkelanjutan Di Indonesia, Forum
Penelitian Agro Ekonomi, Volume 29
No.1:13-25, Bogor.
Rubiah, H. 2021. Encomotion, Sistem Irigasi Pintar, Alat Penyiram Tanaman
Otomatis, https://www.biopsagrotekno.co.id/encomotion-sistem-irigasi- pintar-alat-penyiram-tanaman-otomatis/ , diakses
tanggal 25 Sepetember
2021.
Safitri, N.N., 2020. Peran
Bioteknologi Tanaman Dalam Bidang Pertanian,
https://www.bengkulunews.co.id/peran-bioteknologi-tanaman-dalam- bidang-pertanian , diakses tanggal 25 September 2021
Setiawan, M.I., Hery, B., Koespiadi. 2015. Pengembangan sentra pertanian perkotaan (urban Farming)
menggunakan struktur air
inflated greenhouse, Prosiding Seminar Nasional Fakultas Teknik Sipil Universitas Narotama, Surabaya.
|
Disahkan Oleh Kepala Sekolah, |
Diperiksa Oleh : Waka Kurikulum, |
Kolaka, 10 juli 2022 Guru Mata Pelajaran, |
|
NIP.19780523
200312 1 011 |
SUFAH KODUKU, S.Pd NIP.197209082000121004 |
ISHAR, S.P.M.Pd NIP.19690223200012
1 003 |
60
mantapmi, sdh bisa dapat cuan.....
BalasHapus