MODUL MERDEKA MENGAJAR

 

 

 

MODUL AJAR  1

DASAR DASAR AGRIBISNIS TANAMAN

Elemen :

Proses bisnis secara menyeluruh

di bidang agribisnis tanaman

Description: C:\Users\IKHSAR_PC\Downloads\LOGO SMKN 2 KOLAKA NEW.png

OLEH :

ISHAR

SALIMA

SAFARIA ZUBAIR

MARIA

FATMAWATY

 

SMK NEGERI 2 KOLAKA (Ex smkn. 1 baula )

SMK PUSAT KEUNGGULAN

Kabupaten kolaka

Provinsi Sulawesi tenggara


 

 

 

 

ELEMEN

 

 

 

 

Nama Penyusun                      : Ishar, SP. M.Pd

 

Satuan Pendidikan                             : SMK Negeri 2 Kolaka

 

Kelas  / Semester                                : X (sepuluh ) / Ganjil

 

Alokasi Waktu                                    : 48 JP ( 4 X 12 ) tatap muka

Perkembangan teknologi produksi dan  isu-isu global terkait dengan agribisnis dan industri tanaman

 

 

 

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Umum :

Pada  akhir fase E (kelas X), peserta didik  akan mendapatkan gambaran

 

mengenai agribisnis tanaman sehingga mampu menumbuhkan passion dan   vision untuk  merencanakan  dan   melaksanakan aktivitas belajar. Selain itu  di  akhir fase E,  pada aspek hard skills peserta didik   akan mampu memahami elemen-elemen kompetensi pada mata  pelajaran Dasar-Dasar Agribisnis Tanaman.

Khusus

 

:

Pada akhir fase E, peserta didik dapat memahami perkembangan proses produksi tanaman secara konvensional sampai modern, pertanian perkotaan (urban farming), alat dan mesin pertanian dari yang konvensional sampai yang otomatis dan berbasis IOT, smart farming dan isu pemanasan global, perubahan iklim, ketersediaan pangan global, regional dan lokal, sustainable farming (pertanian berkelanjutan), serta penerapan bioteknologi dalam pertanian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUJUAN PEMBELAJARAN

Pada  akhir pembelajaran, peserta didik  mampu :

1.

menjelaskan perkembangan proses produksi tanaman secara konvensional

 

sampai modern

2.

menjelaskan  pertanian perkotaan (urban farming)

3.

menerangkan alat dan mesin pertanian dari yang konvensional sampai yang

 

otomatis dan  berbasis IOT

4.

mengaitkan smart farming dan  isu pemanasan global

5.

mengidentifikasi perubahan iklim secara mandiri

6.

menjelaskan ketersediaan pangan global,regional dan  lokal

7.

menjabarkan  sustainable farming (pertanian berkelanjutan)

8.

menjelaskan penerapan bioteknologi dalam pertanian

 

 
1


 

 

KATA KUNCI

 

Urban farming, otomatisasi alat dan mesin pertanian, smart farming, isu pemanasan global, perubahan iklim, kesediaan pangan, sustainable farming, bioteknologi dalam

pertanian.

 

 


 

 

Mandiri

 

   Bernalar Kritis

 

   Kreatif


PROFIL PELAJAR PANCASILA


 

 

SARANA DAN PRASARANA

 

    Gawai ( bisa berupa handphone android, tablet, laptop dsb.)

    Jaringan internet yang bagus

    Akun gmail untuk pengumpulan tugas melalui Google Classroom

    Alat tulis dan  buku

    LCD (untuk luring)

 

 

 

TARGET PESERTA DIDIK Semua siswa dalam kelas masing-masing

Jumlah peserta didik  dalam pembelajaran maksimal 36 peserta didik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KETERSEDIAAN MATERI

MODEL & MODA PEMBELAJARAN

   Pengayaan untuk siswa

 

berpencapaian tinggi: YA / TIDAK

   Alternatif penjelasan, metode, atau aktivitas, untuk siswa yang sulit memahami konsep: YA / TIDAK

   Model Pembelajaran :

 

Problem Based Learning

   Moda Pembelajaran :

 

daring & atau luring

ASESMEN

JENIS ASESMEN

   Individu

   Kelompok

   Observasi /pengamatan

   Presentasi

 

 
2


 

 

KEGIATAN PEMBELAJARAN  UTAMA Pengaturan peserta didik  :

   Individu

 

   Kelompok ( masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang) Metode :

   Diskusi

 

   Observasi

 

   Penugasan

 

 


 

 

   Materi  ajar  :


MATERI AJAR


1.     Perkembangan proses produksi tanaman  secara konvensional sampai modern

2.  Pertanian perkotaan (urban farming)

 

3.   Alat dan  mesin pertanian dari  yang  konvensional sampai yang  otomatis dan  berbasis IOT

4.  Smart farming dan  isu pemanasan global, perubahan iklim

 

5.  Ketersediaan pangan global,regional dan  lokal

 

6.   Sustainable farming (pertanian berkelanjutan)

 

7.  Penerapan bioteknologi dalam pertanian

 

   LKPD  (terlampir)

    Link youtube : https://youtube/CZ2PaptT4f8  dan https://www.youtube.com/watch?v=T-CHoAvomVE

 

 

 

PEMAHAMAN BERMAKNA

 

Salah satu tantangan pembangunan pertanian ke  depan adalah mempertahankan keberlanjutan untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan  kesejahteraan petani.

Urban Farming merupakan strategi pemanfaatan lahan di area perkotaan untuk mengurangi ketergantungan pasar,  menjadi solusi menghadapi

krisis   ketahanan   pangan,    dan     tentunya   mampu   meningkatkan perekonomian masyarakat.                                                                                                  3


 

Smart farming (pertanian pintar) merupakan system pertanian berbasis teknologi  yang   dapat  membantu  petani menghasilkan panen secara kuantitas dan  kualitas. Dengan penggunaan platform yang dikonektivitasikan dengan perangkat teknologi (tablet maupun handphone) dalam pengumpulan informasi (misalkan status hara tanah, kelembaban  udara, kondisi cuaca  dsb.)  yang  diperoleh dari   lapangan membuat pekerjaan menjadi lebih  efektif dan  efisien.

PERTANYAAN PEMANTIK

 

1.     Dapatkah kita bertani meskipun lahannya sempit/tidak  memiliki lahan pertanian?

2.  Bagaimana mengontrol tanaman  pada lahan yang  luas dengan tenaga kerja yang terbatas?

3.   Bagaimana bertani yang ramah lingkungan?

 

4.   Bagaimana  menanam untuk ketersediaan pangan,  namun iklim  tidak menentu?

5.   Apa pendapatmu tentang bioteknologi di bidang pertanian?

 

 

 

PERSIAPAN PEMBELAJARAN Sebelum pembelajaran dimulai, pastikan bahwa : Peserta didik  :

a.   Mempersiapkan perangkat gawai  yang akan digunakan

 

b.  Mempersiapkan alat tulis dan  buku

 

c.   Memiliki  paket data/wifi dan  jaringan yang bagus

 

d.  Memiliki  akun gmail untuk bergabung di Google Classroom

 

Guru memastikan :

 

e.   Ruang kelas, LCD, Laptop, dan  materi (bahan tayang) telah siap.

Point a sampai dengan d (jika dilakukan secara daring), point e jika dilakukan secara luring

 

 

 

 

 

 

 

4


 

URUTAN KEGIATAN PEMBELAJARAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan   1

12 jp

Zoom / G meet / lainnya (daring) ataupun luring

a

Pendahuluan ( 20 menit)

-

Guru  mengucap salam dan  mengajak peserta didik  berdoa untuk

 

mengawali kegiatan.

-

Guru  menanyakan kabar peserta didik   dan   selalu mengingatkan

 

protokol kesehatan dan  selalu menjaga kesehatan.

-

Guru  mengingatkan kembali kepada peserta didik  untuk mengisi

 

presensi di link yang sudah dibagikan.

-

Guru   memberikan  informasi  mengenai  tujuan   pembelajaran,

 

langkah pembelajaran dan  penilaian serta memberikan apersepsi dengan mengaitkan masalah  yang   ada di  sekitar peserta didik dengan materi yang akan dipelajari.

Permasalahan yang diangkat adalah tentang :

 

-    Perubahan iklim

 

-    Ketersediaan lahan pertanian yang semakin berkurang

 

-    Ketersediaan pangan baik  lokal, regional maupun global

b

Kegiatan Inti (500 menit)

Orientasi

 

peserta didik  pada masalah

Guru   menyampaikan  masalah   yang    akan  dipecahkan  secara

 

berkelompok. Masalah yang akan dipecahkan bersifat konteksual. Peserta Didik menyimak Video pembelajaran pada link   berikut ini https://youtube/CZ2PaptT4f8   .    Video     tersebut     berisi  tentang dampak perubahan iklim    termasuk dalam sektor pertanian, juga menggambarkan tentang pertanian berkelanjutan. Sedangkan pada link    berikut   :    https://www.youtube.com/watch?v=T-CHoAvomVE menggambarkan kreatifitas dalam memanfaatkan  limbah dalam kegiatan urban farming.

Mengorgani

 

sasikan peserta didik

Berdasarkan   video   pendek  tersebut,   peserta  didik   dipersilakan

 

mengajukan permasalahan apa  yang  terjadi saat ini terkait dengan tayangan video tersebut.  Guru memfasilitasi.

Permasalahan yang muncul diantaranya :

 

 
5


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.     Perubahan iklim dan  isu pemanasan global

 

2.  Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian

 

3.   Alternatif solusi dampak perubahan iklim di sektor pertanian

 

4.  Kaitannya antara isu pemanasan global dengan smart farming

 

5.  Sustainable farming

Peserta didik  berdiskusi dan  membagi tugas untuk mencari data

 

yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah

Membimbin

 

g penyelidika n individu maupun kelompok

-    Peserta       didik          melakukan        penyelidikan       (mencari

 

data/referensi/sumber ) untuk bahan diskusi.

 

-     Guru memantau keterlibatan peserta didik  dalam pengumpulan data selama proses penyelidikan.

Mengemban

 

gkan dan menyajikan hasil karya

-    Peserta  didik   secara  berkelompok melakukan  diskusi  untuk

 

menghasilkan   solusi   pemecahan   masalah    dan     hasilnya dipresentasikan /disajikan dalam bentuk karya.

-     Guru  memantau diskusi dan  membimbing pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan.

Menganalisi

 

s dan mengevalua si proses pemecahan masalah

-    Setiap    kelompok   melakukan    presentasi,     kelompok    lain

 

memberikan apresiasi. Kegiatan dilanjutkan dengan merangkum/membuat  kesimpulan  sesuai  dengan  masukan yang diperoleh dari kelompok lain.

-      Guru    membimbing   presentasi   dan     mendorong   kelompok memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain.

-    Guru bersama peserta didik  menyimpulkan materi

c

Penutup (20 menit)

-

Guru  dan  peserta didik  melakukan refleksi kegiatan pembelajaran

 

yang telah dilakukan.

-

Guru menyampaikan ke peserta didik rencana pertemuan berikutnya

 

tentang    Perkembangan   proses    produksi    tanaman    secara konvensional sampai modern

-

Doa penutup

 

 
6


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan 2

12 jp

Zoom / G meet / lainnya (daring) ataupun luring

a

Pendahuluan ( 20 menit)

-

Guru mengucap salam dan menunjuk salah satu peserta didik untuk

 

memimpin doa  supaya pembelajaran hari  ini  berjalan lancar dan memberikan kebermanfaatan untuk semua.

-

Guru  menanyakan kabar peserta didik   dan   selalu mengingatkan

 

protokol kesehatan dan  selalu menjaga kesehatan.

-

Guru mengingatkan kepada peserta didik  untuk mengisi presensi di

 

link yang sudah dibagikan.

-

Guru menanyakan kembali materi minggu lalu, apakah masih ada

 

peserta didik  yang  mengingat. Guru  mengajukan beberapa pertanyaan terkait materi minggu lalu.  Guru  memberi apresiasi untuk peserta didik  yang berani menjawab.

-

Guru mengaitkan materi minggu lalu dengan kegiatan pembelajaran

 

yang  akan dilakukan hari  ini,  yaitu  tentang perkembangan proses produksi tanaman dari mulai konvensional sampai dengan modern.

b

Kegiatan Inti (500 menit)

Orientasi

 

peserta didik  pada masalah

Guru   menyampaikan  masalah   yang    akan  dipecahkan  secara

 

berkelompok. Masalah yang  akan dipecahkan bersifat konteksual. Dapat  berupa video,  maupun gambar komparasi pertanian jaman dulu dengan pertanian jaman sekarang.

-      Bagaimana  cara  bercocok tanam  masyarakat  jaman  dahulu dengan sekarang?

-      Alat dan atau mesin pertanian apa yang digunakan untuk bertani oleh masyarakat jaman dulu dengan sekarang?

Mengorgani

 

sasikan peserta didik

-    Guru membagi peserta didik  dalam kelompok.

 

-      Peserta didik  berdiskusi dan  membagi tugas untuk mencari data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah

Membimbin

 

g penyelidika

-    Peserta       didik          melakukan        penyelidikan       (mencari

 

data/referensi/sumber ) untuk bahan diskusi tentang :

 

1.     Perkembangan    proses    produksi    tanaman     secara

 

 
7


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

n individu

 

maupun kelompok

konvensional sampai modern

 

2.  Perkembangan alat dan  atau mesin pertanian

 

-      Guru memantau keterlibatan peserta didik  dalam pengumpulan data selama proses penyelidikan.

Mengemban

 

gkan dan menyajikan hasil karya

-    Peserta  didik   secara  berkelompok melakukan  diskusi  untuk

 

menghasilkan   solusi   pemecahan   masalah    dan     hasilnya dipresentasikan /disajikan dalam bentuk karya.

-     Guru  memantau diskusi dan  membimbing pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan.

Menganalisi

 

s dan mengevalua si proses pemecahan masalah

-    Setiap    kelompok   melakukan    presentasi,     kelompok    lain

 

memberikan apresiasi. Kegiatan dilanjutkan dengan merangkum/membuat  kesimpulan  sesuai  dengan  masukan yang diperoleh dari kelompok lain.

-      Guru    membimbing   presentasi   dan     mendorong   kelompok memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain.

-    Guru bersama peserta didik  menyimpulkan materi

c

Penutup (20 menit)

-

Guru  dan  peserta didik  melakukan refleksi tentang pembelajaran

 

pada pertemuan ini  dengan cara menyatakan pendapat sekaligus saran tentang bagaimana pembelajaran hari  ini  dari  awal  sampai akhir

 

Guru  menyampaikan kegiatan  berikutnya yaitu   tentang alat dan

 

mesin pertanian dari  yang  konvensional sampai yang  otomatis dan berbasis IOT.

-

Doa penutup

Pertemuan 3

12 jp

Zoom / G meet / lainnya (daring) ataupun luring

a

Pendahuluan (20 menit)

-

Guru   dan    peserta  didik    berdoa  terlebih  dahulu,   agar    diberi

 

kemudahan  selama  belajar  dan    diberi  tambahan   ilmu    yang bermanfaat.

Peserta didik  mengisi daftar hadir sesuai link yang dibagikan.

 

 
8


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

Guru  menanyakan kabar peserta didik  dan  mengingatkan peserta

 

didik    agar    menjaga  kesehatan  dan    mentaati  selalu  protokol kesehatan agar  terlindungi dari penyakit.

-

Guru   melakukan  apersepsi  dengan  mengaitkan  materi  pada

 

pertemuan lalu dengan kegiatan yang akan dilakukan saat ini.

b

Kegiatan Inti (500 menit)

Orientasi

 

peserta didik  pada masalah

Guru   menyampaikan  masalah   yang    akan  dipecahkan  secara

 

berkelompok. Masalah yang  akan dipecahkan bersifat konteksual. Dapat berupa video, maupun gambar alat-alat dan  mesin pertanian dari yang konvensional maupun otomatis, dan  berbasis IOT.

-      Bagaimana  perkembangan penggunaan alat  dan   atau mesin pertanian?

Mengorgani

 

sasikan peserta didik

-    Guru membagi peserta didik  dalam kelompok.

 

-      Peserta didik  berdiskusi dan  membagi tugas untuk mencari data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah

Membimbin

 

g penyelidika n individu maupun kelompok

-    Peserta       didik          melakukan        penyelidikan       (mencari

 

data/referensi/sumber ) untuk bahan diskusi tentang :

 

1.     Alat dan  atau mesin pertanian konvensional

 

2.  Alat dan  mesin pertanian modern

 

3.   Alat dan  mesin pertanian berbasis IOT

 

-      Guru memantau keterlibatan peserta didik  dalam pengumpulan data selama proses penyelidikan.

Mengemban

 

gkan dan menyajikan hasil karya

-    Peserta  didik   secara  berkelompok melakukan  diskusi  untuk

 

menghasilkan   solusi   pemecahan   masalah    dan     hasilnya dipresentasikan /disajikan dalam bentuk karya.

-     Guru  memantau diskusi dan  membimbing pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan.

Menganalisi

 

s dan mengevalua si proses

-    Setiap    kelompok   melakukan    presentasi,     kelompok    lain

 

memberikan apresiasi. Kegiatan dilanjutkan dengan merangkum/membuat  kesimpulan  sesuai  dengan  masukan yang diperoleh dari kelompok lain.

 

 
9


 

pemecahan

 

masalah

-    Guru    membimbing   presentasi   dan     mendorong   kelompok

 

memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain.

 

-    Guru bersama peserta didik  menyimpulkan materi

c

Penutup (20 menit)

-

Guru  dan  peserta didik  melakukan refleksi tentang pembelajaran

 

pada pertemuan ini  dengan cara menyatakan pendapat sekaligus saran tentang bagaimana pembelajaran hari  ini  dari  awal  sampai akhir

-

Guru  menyampaikan kegiatan berikutnya yaitu  tentang penerapan

 

bioteknologi dalam pertanian.

-

Doa penutup

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan 4

12 jp

Zoom / G meet / lainnya (daring) ataupun luring

a

Pendahuluan (20 menit)

-

Guru   dan    peserta  didik    berdoa  terlebih  dahulu,   agar    diberi

 

kemudahan  selama  belajar  dan    diberi  tambahan   ilmu    yang bermanfaat.

Peserta didik  mengisi daftar hadir sesuai link yang dibagikan.

-

Guru  menanyakan kabar peserta didik  dan  mengingatkan peserta

 

didik    agar    menjaga  kesehatan  dan    mentaati  selalu  protokol kesehatan agar  terlindungi dari penyakit.

-

Guru   melakukan  apersepsi  dengan  mengaitkan  materi  pada

 

pertemuan lalu dengan kegiatan yang akan dilakukan saat ini yaitu tentang penerapan bioteknologi dalam pertanian.

b

Kegiatan Inti (500 menit)

Orientasi

 

peserta didik  pada masalah

-    Guru  menyampaikan masalah  yang   akan dipecahkan secara

 

berkelompok.  Masalah  yang   akan  dipecahkan  bersifat konteksual. Guru  menayangkan  video/gambar/foto dalam ppt. Tayangan yang  disajikan berupa permasalahan penggunaan pupuk dan  pestisida non  ramah lingkungan sehingga membutuhkan solusi untuk penggunaan pestisida hayati, pupuk

 

 
10


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

hayati, mikroorganisme yang  efektif, serta  bioteknologi lainnya

 

di bidang pertanian.

 

-      Guru     mengarahkan    peserta    didik      untuk    menemukan permasalahan dr tayangan tersebut dan  mencoba merumuskan permasalahan tersebut.

Mengorgani

 

sasikan peserta didik

-    Guru membagi peserta didik  dalam kelompok.

 

-      Peserta didik  berdiskusi dan  membagi tugas untuk mencari data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Data didapat dari berbagai sumber misalnya internet, buku, ataupun sumber lainnya.

Membimbin

 

g penyelidika n individu maupun kelompok

-    Peserta       didik          melakukan        penyelidikan       (mencari

 

data/referensi/sumber ) untuk bahan diskusi tentang :

 

1.     bioteknologi konvensional di bidang pertanian

 

2.  bioteknologi modern di bidang pertanian

 

-      Dalam kegiatan penyelidikan, guru dapat mengajak peserta didik mengamati kegiatan di laboratorium ( kultur jaringan, Hama & Penyakit Tanaman, TTA, dll.   Untuk melihat langsung/observasi penerapan bioteknologi di sekolah sebagai bahan referensi.

-      Guru memantau keterlibatan peserta didik  dalam pengumpulan data selama proses penyelidikan.

Mengemban

 

gkan dan menyajikan hasil karya

-    Peserta  didik   secara  berkelompok melakukan  diskusi  untuk

 

menghasilkan   solusi   pemecahan   masalah    dan     hasilnya dipresentasikan /disajikan dalam bentuk karya.

-     Guru  memantau diskusi dan  membimbing pembuatan laporan sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan.

Menganalisi

 

s dan mengevalua si proses pemecahan masalah

-    Setiap    kelompok   melakukan    presentasi,     kelompok    lain

 

memberikan apresiasi. Kegiatan dilanjutkan dengan merangkum/membuat  kesimpulan  sesuai  dengan  masukan yang diperoleh dari kelompok lain.

-      Guru    membimbing   presentasi   dan     mendorong   kelompok memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain.

-    Guru bersama peserta didik  menyimpulkan materi

 

 
11


 

c

Penutup (20 menit)

-

Guru  dan  peserta didik  melakukan refleksi tentang pembelajaran

 

pada pertemuan ini  dengan cara menyatakan pendapat sekaligus saran tentang bagaimana pembelajaran hari  ini  dari  awal  sampai akhir

-

Guru  menyampaikan kegiatan berikutnya yaitu   modul 3  tentang

 

Agripreneur dan  peluang usaha di bidang agribisnis tanaman.

-

Doa penutup

 

 

KRITERIA PENGUKURAN  KETERCAPAIAN

 

a.   Guru membuat kriteria berhasil/tidak dari instrument performance assessmen yang dibuat.

b.  Guru membuat kriteria berhasil/tidaknya penilaian normatif dari hasil

 

observasi dan  presentasi siswa

 

 

 

REFLEKSI GURU

  Apakah dalam pemberian materi dengan metode yang telah dilakukan serta penjelasan teknis atau instruksi yang  disampaikan untuk pembelajaran yang akan dilakukan dapat dipahami oleh peserta didik?

 Bagian manakah pada rencana pembelajaran yang perlu  diperbaiki?

  Bagaimana  tanggapan peserta didik   terhadap materi atau bahan ajar, pengelolaan  kelas,  latihan dan   penilaian  yang   telah  dilakukan dalam pembelajaran?

 Apakah   dalam  berjalannya proses  pembelajaran  sesuai  dengan  yang

 

diharapkan?

  Apakah arahan dan  penguatan materi yang telah dipelajari dapat dipahami oleh peserta didik?

 

 

 

REFLEKSI SISWA

 

 Apakah kamu memahami instruksi yang dilakukan untuk pembelajaran?

 Apakah  media pembelajaran,  alat dan  bahan mempermudah kamu dalam

12

pembelajaran?


 

 Materi  apa  yang kamu pelajari pada pembelajaran yang telah dilakukan?

  Apakah materi yang  disampaikan, didiskusikan, dan  dipresentasikan dalam pembelajaran dapat kamu pahami?

 Manfaat apa  yang kamu peroleh dari materi pembelajaran?

  Sikap   positif   apa     yang    kamu   peroleh  selama   mengikuti   kegiatan pembelajaran?

 Kesulitan apa  yang kamu alami dalam pembelajaran?

 Apa saja yang kamu lakukan untuk belajar yang lebih  baik?

 

 

 

LAMPIRAN

 

 

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No.

Tema

Rumusan

Masalah

Pengumpulan

data

Solusi pemecahan

masalah

1.

Perubahan    iklim

 

dan                      isu pemanasan global

 

 

 

2.

Dampak

 

perubahan   iklim di      sector pertanian

 

 

 

3.

Alternatif      solusi

 

dampak perubahan     iklim di                   sektor pertanian

 

 

 

4.

Smart      farming

 

dan                      isu pemanasan

global,  perubahan iklim

 

 

 

5.

Ketersediaan

 

 

 

 

 
13


 

 

pangan

 

global,regional dan  lokal

 

 

 

6.

Pertanian

berkelanjutan (sustainable farming)

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 2

 

 

 

No.

Tema

Rumusan

Masalah

Pengumpulan

data

Solusi pemecahan

masalah

1.

Pertanian

 

konvensional

 

 

 

2.

Pertanian modern

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 3

 

 

 

No.

Tema

Rumusan

Masalah

Pengumpulan

data

Solusi pemecahan

masalah

1.

Alat      dan      atau

 

mesin   pertanian konvensional

 

 

 

2.

Alat    dan     mesin

 

pertanian modern

 

 

 

3.

Alat    dan     mesin

 

pertanian berbasis IOT

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 4

 

 

 

 

 

 

 

No.

Tema

Rumusan

Masalah

Pengumpulan

data

Solusi pemecahan

masalah

1.

Bioteknologi

 

konvensional di  bidang

 

 

 

 

 
14


 

 

pertanian

 

 

 

2.

Bioteknologi modern  di

 

bidang pertanian

 

 

 

 

 

KRITERIA PENILAIAN

 

 

 

1.     Penilaian Proses (observasi diskusi)

 

 

Berilah  skor 1, 2 atau 3 yang sesuai

 

No.

Nama Siswa

Unsur Penilaian

Jumlah skor

gagasan

keaktifan

komunikasi

 

1

Nawang

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

dst

dst

 

 

 

 

 

Penentuan Nilai : N = Skor perolehan x 100

Skor maksimal

 

 

Rubrik penilaian

 

Aspek yang dinilai

Skor Penilaian

1

2

3

1

Gagasan

kurang

sedang

bagus

2

Keaktifan

kurang

sedang

aktif

3

Komunikasi

Terbata-bata

sedang

Lancar  & baik

 

 

 

2.   Presentasi

Berikan point 1,2 atau 3 yang sesuai.

 

No.

Nama

Siswa

Unsur Penilaian

Jumlah

skor

substansi

wawasan

komunikasi

Penampilan/

performance

 

1

Eno

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

dst

dst

 

 

 

 

 

 

Perhitungan nilai :  Nilai = Skor yang diperoleh X 100

Skor maksimal

 

15


 

Rubrik penilaian

 

Aspek yang dinilai

Skor Penilaian

1

2

3

1

Substansi

kurang

sedang

mendalam

2

Wawasan

kurang

sedang

luas

3

Komunikasi

Terbata-bata

sedang

Lancar  &baik

4

Penampilan/peroformance

kurang

sedang

baik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disahkan Oleh

Kepala Sekolah,

Diperiksa Oleh :

Waka Kurikulum,

Kolaka, 10 juli 2022

Guru Mata Pelajaran,

 

 

 


MUSTARI MUHAMMAD,SP.d.M.Pd

NIP.19780523 200312 1 011

 

 

 

 

SUFAH KODUKU, S.Pd

NIP.197209082000121004

 

 

 

 

ISHAR, S.P.M.Pd

NIP.19690223200012 1 003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

16


 

 

 

 

BAHAN BACAAN

 

 

 

 

A.  Perkembangan Proses Produksi Tanaman Secara Konvensional Sampai

 

Modern

 

Di dalam kehidupan manusia tidak terlepas dengan pertanian, manusia sudah  mengenal pertanian bahkan selalu berhubungan dengan pertanian. Manusia mengenal budidaya tanaman sejak manusia mulai melakukan kegiatan   bercocok  tanam.   Pada    awal    kehidupan,   manusia  memenuhi kebutuhan pangan hanya bergantung pada alam.  Tanaman yang  tumbuh di alam akan diambil untuk memenuhi kebutuhan  hidupnya. Manusia hanya mengkonsumsi hasil tanaman dari  alam dan  tidak melakukan penanaman atau budidaya.

Seiring perjalanan kehidupan manusia kebutuhan semakin meningkat, manusia  banyak tetapi hasil alam tetap maka manusia apabila mengandalkan hasil alam tidak cukup. Manusia mulai mengenal bercocok tanam berawal dari secara  kebetulan  beberapa  biji-bijian yang   terbuang  sewaktu  kaum  ibu menyiapkan makanan  berkecambah  dan   tumbuh  menjadi tanaman  yang menghasilkan untuk dikonsumsi.  Selanjutnya berkembang usaha  bercocok tanam  sebagai salah  satu  kegiatan pertama pertanian. Karena  kebutuhan semakin  meningkat  dan    hasil  alam  tidaklah  cukup  untuk  memenuhi kebutuhan, maka manusia mulai bercocok tanam dengan menyebar biji-bijian yang ada agar  tumbuh menjadi tanaman baru dan  bisa dipanen.

Perkembangan pertanian  dari   suatu  negara berjalan sesuai  dengan tahapan perkembangan masyarakat, mekanisme pasar yang  berlaku, perkembangan  teknologi dan   perkembangan ekonomi serta  perkembangan kelembagaan sosial.

Ada tiga tahapan perkembangan pertanian berdasarkan tingkat kemajuandan tujuan pengelolaan sektor pertanian tersebut :

a.   Tahap  pertama adalah  pertanian  tradisional  yang   dicirikan  dengan tingkat produktivitas sektor pertanian yang rendah.

b.  Tahap kedua adalah tahapan komersialisasi dari produk pertanian mulai         17


 

dilakukan tetapi penggunaan teknologi dan  modal relatif masih rendah. c.   Tahap  ketiga adalah tahap seluruh produk pertanian ditujukan untuk melayani keperluan pasar komersial dengan ciri penggunaan teknologi

serta modal yang tinggi dan  mempunyai produktivitas yang tinggi pula. Pada   tahapan pertama atau tahap pertanian tradisional,  para petani

biasanya menggarap tanah hanya sebatas yang dapat dikelola oleh tenaga kerja

 

keluarga tanpa memerlukan tenaga kerja bayaran, keadaan lingkungan statis, penggunaan teknologi sangat terbatas, sistem kelembagaan sosial kaku,pasar terpencar-pencar serta  jaringan  komunikasi  antar  daerah  pedesaan  dan perkotaan kurang memadai dan  cenderung menghambat perkembangan produksi.

Proses  perkembangan  pertanian  pada  umumnya  berkaitan  dengan upaya perubahan dari sistem pertanian yang mempunyai produktivitas rendah kepada sistem lebih  modern yang  mempunyai produktivitasnya relatif tinggi dan  yang  mungkin menimbulkan dampak sampingan terhadap lingkungan akibat penggunaan teknologi dan  asupan (input) pertanian modern. Dampak sampingan tersebut tidak hanya ditemui pada pertanian modern tetapi juga ditemui  pada  pertanian  tradisional,  sebagai  akibat  dari     pertumbuhan penduduk yang  meningkat cepat. Meskipun selama ini  pertanian tradisional telah sukses mengelola sumberdaya pertanian tanpa melahirkan kerusakan sumberdaya yang  tidak dapat diperbaiki, tetapi permasalahan   lingkungan akan timbul akibat tekanan populasi penduduk terhadap lahan yang  tersedia relatif sempit sehingga daya  dukungnya rendah.

Pertanian tradisional di daerah tropik dicirikan khususnya oleh  adanya tekanan untuk terus melakukan perluasan areal yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Pengaruh langsung dari  perluasan areal tersebut termasuk terjadinya pencucian hara yang relatif cepat dan adanya degradasi dari kualitas lahan karena pembukaan hutan. Kerusakan kualitas lahan karena pertanaman yang  bersifat permanen pada lahan yang  relatif miskin sehingga tidak dapat dimanfaatkan lagi  tanpa adanya upaya peningkatan kesuburan tanah. Juga terjadi erosi tanah akibat hujan deras dan  musim kering yang  panjang atau

banjir,  dan   hilangnya sumberdaya hutan  akibat adanya ladang berpindah.          18

Meskipun kerusakan sumberdaya alam tersebut dapat dicegah dandiperbaiki


 

jika dana tersedia, tetapi beberapa diantaranya relatif sangat mahal, sehingga lama kelamaan menjadi tidak dapat diperbaiki sama sekali.

Kerentaan dari  ekosistem tropis telah menyebabkan kerusakan sumberdaya alam berjalan dengan cepat,  dan   yang  lebih   memprihatinkan adalah perbaikannya berjalan dengan lambat. Namun demikian masih ada celah untuk  pencegahan  kerusakan  sumberdaya alam  dengan menyusun perencanaan yang  tepat dan   tindakan antisipasi. Misalnya tenaga  kerja di pedesaan  yang   bekerja tidak  penuh  atau  setengah  pengangguran  dapat dimobilisasi untuk membuat terasering di daerah pegunungan atau dilibatkan dalam program reboisasi atau penghutanan kembali hutan-hutan yang  telah

rusak.

 

Kerusakan sumber daya  alam pada pertanian modern timbul terutama akibat dari penggunaan pestisida untuk pengendalian hama dan penyakit serta rerumputan, dan  dari  kegiatan irigasi. Pengaruh sampingan dari  penggunaan pestisida perlu   dilihat secara hati- hati. Daya  racunnya terhadap ikan   dan burung serta persistensi (daya tahan) dan daya jelajahnya di alam membuatnya menjadi berbahaya jauh melampaui sasaran areal dari  penggunaan pestisida tersebut. Sedangkan proyek  konstruksi  sistem  irigasi, apabila tidak sesuai dengan fasilitas drainasenya kemungkinan besar dapat meningkatkan salinasi dari  air  irigasi tersebut. Bahkan penggunaan varietas unggul baru baik  pada komoditas padi, jagung, dan gandum kadangkala menimbulkan efek samping, baik   karena penanaman  varietas unggul tersebut  membutuhkan  pestisida dalam jumlah banyak maupun karena varietas unggul baru tersebut menggantikan spesies lokal  yang  telah mengalami seleksi alami yang  lebih cocok  dengan lingkungan setempat dan  yang  diperlukan untuk proses persilangan. Pengolahan tanah secara terus menerus yang dipermudah dengan adanya mekanisasi pertanian juga dapat merusak struktur tanah. Pertanian modern  tidak  dapat  melepaskan  ketergantungannya  pada  produk  kimia (pupuk dan  pestisida), varietas unggul baru yang  mempunyai produktivitas tinggi dan  irigasi. Harus diupayakan agar  efek  sampingannya dapat dicegah atau   diminimalkan  dengan  perencanaan  pembangunan  pertanian  yang

komprehensif.                                                                                                                                19


 

 

Pengukuran lengas tanah. Sumber : balingtan.pertanian.go.id

 

 

 

Pengalaman menunjukkan bahwa diversifikasi usahatani  merupakan suatu langkah transisi yang  efektif. Dengan langkah ini tanaman pokok  tidak lagi  mendominasi karena tanaman perdagangan yang  baru diintroduksikan seperti sayuran, buah-buahan, kakao, kopi  dan  tanaman lainnya sudah mulai dijalankan bersama dengan usaha peternakan atau perikanan secara sederhana.  Upaya   diversifikasi tersebut  relatif telah  meningkatkan produktifitas usahatani  yang   sebelumnya  sering  menyebabkan  terjadinya

pengangguran tidak kentara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diversifikasi tanaman. Sumber : pertanian-mesuji.id

 

Usaha diversifikasi ini sangat diperlukan mengingat angkatan kerja di          20 pedesaan sering berlimpah dan  dengan diversifikasi angkatan kerja tersebut


 

dapat dimanfaatkan dengan lebih  optimal. Pada  tahapan ini, pemakaian alat dan   mesin  pertanian  mulai diintroduksi, demikian pula   penggunaan benih varietas unggul baru, serta pupuk, pestisida dan  irigasi. Dengan demikian para petani mampu memperoleh surplus produksi yang  dapat dijual serta mengurangi risiko kegagalan panen.

Seiring perkembangan budidaya pertanian, dewasa ini  dengan adanya perkembangan tehnologi, budidaya tanaman juga mulai berkembang. Dengan memanfaatkan teknologi digitalisasi.

 

 

B.  Pertanian Perkotaan (Urban Farming)

 

Menurut FAO  (Food  Agriculture  Organization),  pertanian  perkotaan merupakan industry yang  memproduksi, memproses dan  memasarkan produk pertanian, terutama memenuhi permintaan harian konsumen di dalam perkotaan, dengan metode produksi intensif, memanfaatkan dan  mendaur ulang sumber daya  dan  limbah perkotaan untuk menghasilkan beragam tanaman kebutuhan pangan masyarakat perkotaan (Smit, J, A. Ratta, J. Nasr, 1996 dalam Setiawan, 2015).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : balitbangpertanian.go.id                             Sumber : Kompas.com

 

Gambar : Bentuk pertanian perkotaan

 

 

 

a.  Manfaat Urban Farming

 

Manfaat yang didapatkan dari adanya Urban Farming, antara lain :

 

1.     Mengurangi sampah.

 

Sampah-sampah  organik dan  limbah dapur rumah tangga apabila dikumpulkan akan menjadi banyak sekali dan  bisa menimbulkan bau  dan           21


 

juga  bisa  menyebabkan timbulnya penyakit.  Sampah-sampah  limbah rumah tangga tersebut dapat diolah dan   dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Selain sampah  organik,  rumah tangga juga dapat  menghasilkan sampah  anorganik berupa wadah yang  tidak terpakai, misalnya kaleng bekas, botol bekas, ban  mobil bekas, pipa  pralon, plastik bekas kemasan, dan   sebagainya. Sampah  tersebut  dapat  digunakan  sebagai  tempat menanam.

2.  Mengurangi polusi udara dan  suara

 

Gas karbondioksida (CO2) yang  mencemari udara akan diserap tanaman yang akan diubah menjadi oksigen (O2) melalui fotosintesis.

Kehadiran  tanaman  dalan  system  pertanian  perkotaan terbukti efektif dapat menyerap gelombang suara sehingga mampu mengurangi efek   negative  dari   gelombang suara  tersebut.  Dalam  studi  Paparan kebisingan dan  kesehatan masyarakat terungkap bahwa paparan kebisingan dapat mengakibatkan tunarungu, hipertensi, penyakit jantung iskemik, gangguan tidur dan  penurunan prestasi sekolah pada anak.

3.   Mengurangi cemaran logam

 

Saat ini  cemaran logam berat dan  pestisida dalam bahan pangan menjadi salah satu ancaman bagi  masyarakat kota. Untuk meminimalisir cemaran tersebut, masyarakat kota dapat menanam sendiri bahan pangan yang  akan dikonsumsi dan  mengatur penggunaan pupuk kimia menjadi pupuk organik dan  pestisida kimia menjadi pestisida nabati.

Lahan  kosong yang tercemar logam berat dan  kimia seperti mercury, timbal, arsenic, uranium dapat dibersihkan dengan istilah fitoremidiasiyaitu menanam tanaman pada lahan yang tercemar sehingga tanaman dan mikroorganisme mendegradasi bahan kimia tersebut, menyerap dan mengkonversi dalam bentuk tersedia. Tetapi tanaman tersebut tidak untuk dikonsumsi.  Setelah lahan bersih dari   kontaminan  barulah digunakan untuk memproduksi bahan tanam.

4.  Menambah nilai estetika kota

 

22


 

Berbagai  tanaman yang  ditanam akan memperindah tatanan kota dan  akan meningkatkan nilai  estetika kota. Kota akan tampak menghijau dengan adanya tanaman.

5.  Memberikan pendapatan tambahan

 

Pertanian perkotaan yang  dilakukan di  rumah selain dapat mengurangi pengeluaran keluarga dalam hal pembelian bahan pangan juga dapat menjadi mata pencaharian sampingan keluarga.

6.   Mengurangi tingkat stress dan  memperbaiki hubungan sosial

 

Beberapa  hasil  penelitian  mengenai  pertanian  perkotaan menunjukkan adanya penurunan adanya tingkat stress  dan   kesehatan mental   responden  setelah   beberapa  waktu  terlibat  dalam  aktivitas pertanian di perkotaan. Beberapa kasus yang  telah terdokumentasi menunjukkan bahwa keberadaan kebun komunitas(komunal) dapat menyebabkan perbaikan hubungan sosial, peningkatan kebanggaan dan kesehatan, serta penurunan tingkat kejahatan dan  bunuh diri dalam masyarakat.

7.  Merupakan sarana edukasi

 

Pertanian perkotaan akan memberikan wadah yang sangat nyata bagi pendidikan pertanian kepada masyarakat tua dan  muda. Hal ini  meliputi kesadaran pentingnya menjaga kelestarian alam disamping pengetahuan teknologi pendukung  yang   diperlukan. Semua  tersedia  sebagai laboratorium hidup yang  dapat dilihat dan  disentuh langsung oleh  para pembelajar dari berbagai kelompok usia.

8.  Meningkatkan kesehatan masyarakat

 

Di   lingkungan   perkotaan   banyak  sekali   ditemukan   masalah kesehatan masyarakat dalam bentuk kekurangan gizi, obesitas, diabetes, penyakit jantung  dan   lain-lain. Hal  ini  sebagian diakibatkan konsumsi makanan yang  kurang sehat dan  seimbang. Tersedianya produk lokal  yang sehat serta berkualitas memberikan peluang untuk membantu mengatasi masalah kesehatan sehingga tingkat kesehatan masyarakat terjaga.

9.  Pembangunan komunitas

Program dalam kegiatan pertanian perkotaan akan mempertemukan         23 berbagai komponen masyarakat yang  memiliki perhatian dan  kepentingan


 

terhadap manfaat yang didapat. Kepentingan bersama ini akan mempererat hubungan manusia di dalam masyarakat sehingga tercipta suasana yang kondusif untuk kerja sama  saling mendukung dan   saling menghargai. Keterlibatan komunitas akan menjadi salah satu kunci sukses penerapan pertanian perkotaan.

10.  Meningkatkan ruang terbuka hijau

 

Keberadaan    pertanian   perkotaan   akan   dapat   meningkatkan kesehatan ekosistem perkotaan. Hal ini sebagai akibat dari  estetika yang timbul karena adanya lebih   banyak tanaman-tanaman  yang   menutupi lahan  dan    bangunan.   Porsi  lingkungan  hijau  akan  bertambah   dan membawa dampak fotosintesa yang memperbaiki kualitas udara, suasana lingkungan yang lebih  alami dan  damai bagi  masyarakat semua dan  pada gilirannya berarti terjaga kualitas kehidupan sosial.

 

 

b.  Penerapan Pertanian Perkotaan (Urban Farming)

 

Beberapa  penerapan kegiatan pertanian perkotaan (urban farming)

 

diantaranya yaitu  :

 

1.     Vertikultur,   merupakan  teknik bercocok tanam  diruang/lahan  sempit dengan memanfaatkan  bidang vertikal sebagai tempat bercocok tanam yang dilakukan secara bertingkat. Vertikultur dapat dibuat dari:

 Bambu atau pralon dengan posisi vertikal

 Talang  sistem rak

 Pot atau polybag

 

 

 

 

Sumber : cybex.pertanian.go.id                              Sumber : Kagama.id                     24


 

 

 

2.  Hidroponik,   merupakan sistem penanaman tanpa menggunakan media tanah. Air merupakan media utama dalam budidaya secara hidroponik. Tetapi   selain  media  air   juga bisa  menggunakan media tanam  yang berupa rockwool, sekam bakar, hidroton, atau pasir dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi  tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Dokumentasi pribadi

 

 

 

Ada 6 teknik/macam sistem budidaya Hidroponik :

 

1)   Teknik hidroponik sistem drip, yaitu bercocok tanaman hidroponik dengan sistem pengairan tetes.

2)  Teknik hidroponik sestem EBB dan  Flow System sering juga disebut sistem pasang surut, yaitu nutrisi diberikan dengan menggenangi areal   perakaran,    dan     apabila   sudah   cukup   maka   nutrisi dikembalikan ke penampungan.

3)  Teknik NFT (Nutrien Film Technique), yaitu dengan cara mengalirkan nutrisi secara terus menerus .

4)  Teknik  DWC (Deep  Water Culture) atau sering juga disebut sistem rakit apung  (Floating Raft System), yaitu  teknik dengan cara akar direndam dalam larutan nutrisi.

5) Teknik   hidroponik sistem  sumbu  (Wick   system),  dengan menggunakan sumbu sebagai penyerapan nutrisi.

6)  Teknik  Aeroponik,  yaitu   tanaman  ditumbuhkan pada area yang lembab tanpa menggunakan air maupan media lain.

25

 

3.   Wallgardening, yaitu budidaya tanaman dengan menanam  tanaman yang


 

dibuat secara tegak lurus (vertikal). Wallgardening adalah budidaya tanaman dengan memanfaatkan ruang kosong seperti pada tembok atau dinding kosong baik  di dalam maupun di luar  ruangan. Wallgardening ini menjadi trend yang telah banyak ditemui terutama di kota-kota besar.

 

Sumber : indiamart.com

 

 

 

4.  Tambulampot, adalah kepanjangan dari  tanaman buah dalam pot  yang memiliki arti  yaitu tumbuhan  yang   dibudidayakan didalam  pot   yang tujuannya untuk hiasan ataupun untuk di produksi buahnya.

 

Sumber : shopee.co.id

 

 

26


 

5.  Aquaponik, merupakan   sistem    pertanian   yang     mengombinasikan akuakultur atau pemeliharaan hewan air dengan hidroponik.

 

 

 

Sumber : kompasiana.com

 

 

 

6.   Urban  Bee,  merupakan kegiatan budidaya lebah untuk  menghasilkan madu dan  propolis

 

Sumber : najell.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

27


 

7.  Green office dan Roof Top Garden.

 

 

Sumber : imaniadesain.com

 

 

 

C.  Ketersediaan Pangan Global,Regional Dan Lokal

 

Ketahanan pangan telah menjadi isu  sentral dalam kerangka pembangunan  pertanian  dan   pembangunan   Nasional. Ketahanan  pangan diartikan sebagai tersedianya pangan dalam jumlah dan  kualitas yang  cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dana man dikonsumsi bagi setiap warga untuk menopang aktivitasnya sehari-hari sepanjang waktu (Handewi, 2002).

Dalam  pengertian  kebijakan operasional pembangunan,  Departemen Pertanian menerjemahkan ketahanan pangan menyangkut ketersediaan, aksesibilitas (keterjangkauan),  stabilitas  pengadaannya. Selain aspek produksi,  ketahanan  pangan  mensyaratkan pendapatan  yang   cukup  bagi masyarakat untuk mengakses bahan pangan, keamanan pangan, serta aspek distribusi.

Dalam era globalisasi dan  perdagangan bebas yang sangat kompetitif di pasar  internasional, Indonesia  menghadapi tantangan  berat dalam merumuskan kebijakan pangan yang  mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduk.  Kebijakan   pangan  yang   dimaksud  antara  lain   adalah  upaya

mempertahankan dan  meningkatkan ketersediaan ragam komoditas pangan

28

dan  upaya peningkatan diversifikasi konsumsi pangan.  Dengan  sumberdaya


 

yang  terbatas, kebijakan untuk meningkatkan pangan dalam kaitannya mempertahankan ketahanan pangan, berbagai sumberdaya perlu  digunakan untuk menghasilkan komoditas pangan yang  kompetitif dalam harga dan mutu  terhadap  produk impor.  Dalam  kondisi demikian kegiatan  produksi pangan harus berorientasi pada pasar internasional.

Pembangunan pertanian yang dilaksanakan secara konsisten selama ini telah mampu menyediakan berbagai jenis pangan. Namun demikian, adanya kelebihan ketersediaan pangan di  tingkat  wilayah (nasional, regional) tidak menjamin adanya ketahanan pangan di tingkat individu atau rumah tangga. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh meningkatnya kasus-kasus kurang gizi dan rawan pangan sejak terjadinya krisis ekonomi. Oleh  karena itu,  faktor akses individu dalam menjangkau kebutuhan pangan yang  diperlukan merupakan faktor kunci ketahanan  pangan  di  tingkat  rumah  tangga. Akses  individu terhadap pangan yang  dibutuhkan sangat dipengaruhi oleh  daya  beli, tingkat pendapatan, harga pangan, proses distribusi pangan, kelembagaan di tingkat lokal dan  faktor sosial lainnya.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan di tingkat lokal, terutama di masa pandemik ini lebih  khususnya ketersediaan pangan rumah tangga diantaranya pemanfaatan  teknologi urban farming, Masyarakat bisa memanfaatkan lingkungan sekitar rumah untuk menanam,  dapat menerapkan vertikultur, hidroponik system wick  dengan memanfaatkan limbah botol plastic, tambulampot, dan  sebagainya. Tidak  harus memiliki lahan luas, area sempit sekitar rumah dapat dioptimalkan untuk menanam sayuran, buah kebutuhan pangan rumah tangga.

 

 

D.  Sustainable Farming (Pertanian Berkelanjutan)

 

1.     Prinsip Dasar Sistem Pertanian Berkelanjutan

 

Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pertanian yang  berlanjut untuk saat ini dan  saat yang  akan datang dan  selamanya, Artinya  pertanian tetap ada dan   bermanfaat bagi   semuanya dan   tidak menimbulkan bencana bagi  semuanya. Jadi  dengan kata lain  pertanian

yang   bisa dilaksanakan saat  ini,  saat yang   akan datang dan   menjadi        29

 

warisan yang berharga bagi  anak cucu kita.


 

Ada  pun   definisi lain   dari sistem pertanian berkelanjutan adalah sebagai alternatif-alternatif untuk mencapai tujuan sistem produksi pertanian yang  dapat menguntungkan secara ekonomi dan  aman secara lingkungan. Sistem pertanian berkelanjutan juga dapat diartikan sebagai keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan  dan meningkatkan  kualitas  lingkungan serta  konservasi sumberdaya alam. Pertanian berwawasan lingkungan selalu memperhatikan nasabah tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan  kesehatan.

Sedangkan tujuan  pertanian yang  berwawasan lingkungan adalah mempertahankan dan  meningkatkan kesuburan tanah; meningkatkan dan mempertahankan hasil pada aras yang   optimal; mempertahankan  dan meningkatkan  keanekaragaman  hayati dan   ekosistem; dan   yang   lebih penting untuk mempertahankan dan  meningkatkan kesehatan penduduk dan  makhluk hidup lainnya.

Berarti  dapat  disimpulkan  bahwa pertanian  berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pertanian yang  meliputi komponen- komponen fisik, biologi, sosial  ekonomi, lingkungan dan   manusia yang berjalan secara ideal  untuk saat ini dan  yang akan datang.

Setelah  perang  dunia  II penggunaan bahan  kimia dan   rekayasa teknologi meningkat  lagi  dan  mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, dimana  pada  tahun  yang   sama  terjadi  krisis  energi.  Semua  negara berlomba-lomba memacu  produktivitas industri  pertanian  untuk memenuhi bahan baku agroindustri. Semangat berkompetisi melahirkan teknologi-teknologi baru  di  dunia  pertanian  seperti  rekayasa genetika, kultur jaringan, dan  teknologi canggih pertanian.

Di negara-negara selatan seperti Indonesia, dicanangkan program intensifikasi usaha tani, khususnya padi  sebagai makanan pokok,  dengan mendorong pemakaian benih varietas unggul (high variety yield), pupuk kimia dan  obat-obatan pemberantas hama dan  penyakit. Kebijakkan pemerintah   saat    itu     memang   secara    jelas   merekomondasaikan

penggunaan energi luar  yang dikenal dengan paket Panca Usaha Tani, yang          30 salah satunya menganjurkan penggunaan pupuk kimia dan  pestisida.


 

Terminologi         pertanian           berkelanjutan           (susitainable agriculture) sebagai padanan  istilah agroekosistem pertama kali  dipakai sekitar awal  tahun 1980-an oleh  pakar pertanian FAO  (Food  Agriculture Organization). Argoekosistem sendiri mengacu pada modifikasi ekosistem alamiah dengan sentuhan campur tangan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, serat, dan  kayu, untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Conway (1984) juga menggunakan istilah pertanian berkelanjutan dengan agro  ekosistem yang  berupaya memadukan antara produktivitas  (productivity),    stabilitas (Stability),    pemerataan (equlity). Jadi  semakin jelas bahwa konsep agroekosistem atau pertanian berkelanjutan       adalah       jawaban       kegamangan       dampak green revolution antara lain  di tenggarai oleh  semakin merosotnya produktivitas pertanian.

Kegagalan pertanian modern memaksa pakar pertanian dan lingkungan  berpikir keras  dan   mencoba  merumuskan  kembali sistem pertanian ramah lingkungan atau back  to nature.  Jadi  sebenarnya sistem pertanian berkelanjutan merupakan paradigma lama yang  mulai diaktualisasikan  kembali  menjelang  masuk  abad  ke   21   ini.   Hal   ini merupakan fenomena keteraturan siklus alamiah sesuai dengan pergantian

abad.

 

Saat ini,  negara-negara barat dilanda gelombang budaya teknologi tinggi   (information   technology) yang    disertai   pesatnya   penggunaan teknologi super canggih dalam bidang telekomunikasi, misalnya penemuan internet, telepon seluler, dan   lain  sebagainya. Sementara, negara-negara selatan  masih  berada  dalam  masa  transisi  dari   gelombang  budaya pertanian ke  gelombang budaya industri.  Teknologi   yang  diadopsi oleh masyarakat manusia turut menentukkan semangat, corak, sifat, struktur, serta proses ekonomi, sosial, dan  budaya.

Ada dua peristiwa penting yang  melahirkan paradigma baru sistem pertanian berkelanjutan, peristiwa pertama adalah laporan Brundland dari komisi Dunia tentang Lingkungan dan Pembangunan pada tahun 1987, yang

mendefinisikan dan  berupaya mempromosikan paradigma pembangunan         31 berkelanjutan.  Peristiwa kedua adalah konferensi dunia di  Rio de  Jenero


 

Brazil  pada tahun 1992,  yang   memuat pembahasan agenda 21  dengan mempromosikan Sustainable     Agriculture      and      Rural      Development (SARD) yang  membawa  pesan  moral pada  dunia  bahwa without better enviromental  stewardship,  development  will  be   undermined  berbagai agenda penting termasuk pembahasan bidang yang  termasuk dalam pembahasan  bidang  pertanian  dalam  konferensi tersebut  antara  lain sebagai berikut :

a.   Menjaga  kontinuitas   produksi   dan    keuntungan  usaha  di   bidang pertanian dalam arti yang luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan,  peikanan,  dan   peternakan)  untuk  jangka  panjang, bagi kelangsungan kehidupan manusia.

b.  Melakukan perawatan dan  peningkatan SDA yang berbasis pertanian.

 

c.   Meminimalkan dampak negatif aktivitas usaha pertanian yang  dapat merugikan bagi  kesuburan lahan dan  kesehatan manusia.

d.  Mewujudkan keadilan sosoal  antar  desa  dan   antar  sektor  dengan pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan.

Memasuki  abad   21   ini,   kesadaran  akan  bertani  yang    ramah lingkungan semakin meningkat, sejalan dengan tuntuan era globalisasi dan perdagangan bebas, hal  ini  terutama  sekali dirasakan di  negara-negara maju,    misalnya   negara-negara   Amerika    dan     negara-negara   Eropa. Sementara itu  negara-negara berkembang misalnya Indonesia, tampaknya masih  terpuruk dan   berkutat  dengan  dampak  negatif green revolution. Lahan-lahan sawah di  pulau Jawa  sebagai sentra produksi padi menunjukkan indikasi adanya penurunan produktifitas. Sawah-sawah mengalami kejenuhan berat atau pelandaian produktivitas karena pemakaian pupuk kimia dan  obat-obatan yang  sudah melampaui ambang batas normal.

Konsep pertanian yang  berkelanjutan terus berkembang, diperkaya dan  dipertajam dengan kajian pemikiran, model, metode, dan  teori berbagai disiplin ilmu  sehingga menjadi suatu kajian ilmu  terapan yang diabadikan bagi    kemaslahatan   umat   manusia   untuk   generasi  sekarang   dan

mendatang.                                                                                                            32


 

Pertanian berkelanjutan  dengan  pendekatan  sistem  dan   besifat holistic (menyeluruh) mempertautkan  berbagai aspek  dan   disiplin ilmu yang  sudah mapan antara lain  agronomi, ekologi,  ekonomi,  sosial,  dan budaya.

Sistem pertanian berkelanjutan juga beisi suatu ajakan moral untuk berbuat kebajikan pada lingkungan sumber daya  alam dengan mempertimbangkan tiga matra atau aspek sebagai berikut:

a.     Lingkungan,  sistem  budidaya pertanian tidak boleh mnyimpang dari sistem ekologis yang  ada.  Keseimbangan merupakan indikator adanya harmonisasi dari  sistem ekologis yang  mekanismena dikendalikanoleh hukum alam.

b.  Bernilai   ekonomis,  sistem  budidaya pertanian harus  mengacu pada pertimbangan untung rugi, baik  bagi  diri sendiri dan  orang lain,  untuk jangka pandek dan  jangka panjang, serta bagi  organisme dalam sistem ekologi maupun diluar sistem ekologi.

c.   Berwatak sosial  atau  kemasyarakatan, sistem pertanian harus selaras dengan norma-norma sosial dan  budaya yang  dianut dan  di  junjung tinggi oleh masyarakat disekitarnya sebagai contoh seorang petani akan mengusahakan peternakan ayam diperkarangan milik  sendiri. Mungkin secara  ekonomis dan   ekologis menjanjikan  keuntungan  yang   layak, namun ditinjau dari aspek sosial dapat memberikan aspek yang kurang baik  misalnya, pencemaran udara karena bau   kotoran ayam. Norma- norma sosial dan   budaya harus diperhatikan,  apalagi dalam sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia biasanya jarak antara perumahan penduduk dengan areal pertanian sangat berdekatan. Didukung dengan tingginya  nilai   sosial  pertimbangan utama  sebelum merencanakan

suatu usaha pertanian dalam arti luas.

 

 

 

Lima kriteria untuk mengelola suatu sistem pertanian berkelanjutan a.   Kelayakan ekonomis (economic viability)

b.  Bernuansa dan  bersahabat dengan ekologi  (accologically sound and

friendly)                                                                                                                          33 c.   Diterima secara sosial (Social just)


 

d.  Kepantasan secara budaya (Culturally approiate)

 

e.   Pendekatan sistem holistik (sistem and  hollisticc approach)

 

 

 

Prinsip Dasar Sistem Pertanian Berkelanjutan

 

Menurut  Jaker   PO (Jaringan Kerja  Pertanian Organik)  dan   IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement), ada 4 prinsip dasar dalam membangun gerakan pertanian berkelanjutan :

a.    Prinsip ekologis

 

Prinsip ini  mengembangkan  upaya bahwa pola   hubungan antara organisme dengan alam adalah satu kesatuan. Upaya-upaya pemanfaatan air, tanah, udara, iklim  serta sumber-sumber keanekaragaman-hayati di  alam harus seoptimal mungkin (tidak mengeksploitasi).  Upaya-upaya pelestarian  harus  sejalan  dengan upaya pemanfaatan.

b.  Prinsip teknis

 

Produksi dan  pengolahan prinsip teknis ini merupakan dasar untuk mengupayakan suatu produk organik. Yang termasuk dalam prinsip ini   mulai  dari   transisi  lahan  model  pertanian  konvensional ke pertanian berkelanjutan, cara pengelolaannya, pemupukan, pengelolaan hama dan  penyakit hingga penggunaan teknologi yang digunakan sejauh mungkin mempertimbangkan kondisi fisik setempat.

c.   Prinsip Sosial ekonomis

 

Prinsip ini  menekankan pada penerimaan model pertanian secara sosial dan  secara ekonomis menguntungkan petani. Selain itu  juga mendorong berkembangnya kearifan lokal, kesetaraan antara perempuan dan  laki-laki, dan  mendorong kemandirian petani.

d.  Prinsip Politik

 

Prinsip  ini  mengutamakan  adanya  kebijakan  yang   tidak bertentangan dengan upaya pengembangan pertanian berkelanjutan. Kebijakan ini baik  dalam upaya produksi, kebijakan harga, maupun

adanya pemasaran yang adil.                                                                                   34


 

2.  Ciri-ciri sistem pertanian berkelanjutan

 

Pertanian berkelanjutan mempunyai ciri-ciri  sebagai berikut :

 

a.   Secara ekonomi menguntungkan dan dapat dipertanggung jawabkan (economically viable). Petani mampu menghasilkan keuntungan dalam tingkat produksi yang  cukup dan  stabil,   pada tingkat resiko yang bisa ditolerir/diterima.

b.  Berwawasan ekologis (ecologically sound).

 

Kualitas   agroekosistem   dipelihara  atau   ditingkatkan,  dengan menjaga keseimbangan ekologi serta konservasi keanekaragaman hayati. Sistem pertanian yang  berwawasan ekologi adalah  sistem yang sehat dan  mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap tekanan dan  gangguan (stress dan  shock).

c.   Berkeadilan sosial.

 

Sistem pertanian yang  menjamin terjadinya keadilan dalam akses dan  kontrol terhadap lahan, modal, informasi, dan  pasar, bagi  yang terlibat tanpa membedakan status sosial-ekonomi, gender, agama atau kelompok etnis.

d.  Manusiawi dan  menghargai budaya lokal.

 

Menghormati eksistensi  dan  memperlakukan dengan bijak semua jenis mahluk yang  ada. Dalam pengembangan pertanian tidak melepaskan diri dari  konteks budaya lokal  dan  menghargai tatanan nilai, spirit dan  pengetahuan lokal.

e.   Mampu berdaptasi (adaptable).

 

Mampu menyesuaikan  diri  terhadap kondisi yang  selalu berubah, seperti pertumbuhan populasi, tantangan kebijaksanaan yang  baru dan      perubahan    konstalasi    (kumpulan    orang   yang     saling

berhubungan) pasar.

 

 

 

Berdasarkan Lembaga Konsultasi Penelitian Pertanian Internasional, pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya   yang  berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah,

sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan           35 melestarikan sumber daya  alam.   Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :


 

a. Mantap secara ekologis, berarti kualitas sumber daya  alam dipertahankan dan  kemampuan agroekosistem secara keseluruhan mulai dari  manusia, tanaman dan  hewan sampai organisme tanah ditingkatkan.  Berarti tanah  harus  dikelola dan  kesehatan tanaman dan  hewan serta masyarakat dipertahankan melalui proses biologis. Sumber daya  lokal digunakan secara ramah dan  dapat diperbaharui.

b.  Dapat berlanjut secara ekonomis.

 

c.   Adil,  yang   berarti  sumber  daya   dan   kekuasaan  didistribusikan sedemikian rupa sehingga keperluan dasar semua anggota masyarakat dapat  terpenuhi dan   begitu pula   hak   mereka dalam penggunaan lahan dan  modal yang  memadai serta bantuan teknis yang terjamin.

d.  Manusiawi, menghargai martabat  dasar semua makhluk hidup dan menghargai budaya lokal.

e.   Luwes, masyarakat memiliki kemampuan dalam menyesuaikan diri

 

(mampu beradaptasi) dengan perubahan kondisi usaha pertanian.

 

f.    Secara   ekonomi   menguntungkan    dan     dapat   dipertanggung jawabkan.  Para   petani mampu menghasilkan keuntungan dalam tingkat produksi yang  cukup dan  stabil, pada tingkat resiko yang masih bisa ditolelir/diterima.

g.  Berkeadilan sosial, ini  yang  sering mendapat hambatan, sistem ini harus menjamin terjadinya keadilan dalam akses dan  kontrol terhadap lahan, modal, informasi dan  pasar bagi  yang terlibat, tanpa membedakan status sosial, ekonomi, jenis kelamin, agama, maupun

etnis.

 

 

 

3.   Sifat-sifat sistem pertanian berkelanjutan

 

Pertanian berkelanjutan memiliki lima  sifat, diantaranya:

 

a.   Mampertahankan fungsi ekologis,  artinya tidak  merusak  ekologi pertanian itu sendiri.

b.  Berlanjut  secara ekonomis artinya mampu memberikan nilai  yang

 

layak   bagi   pelaksana  pertanian  itu   dan   tidak  ada  pihak  yang          36


 

diekploitasi. Masing-masing pihak mendapatkan hak  sesuai dengan partisipasinya.

c.   Adil berarti setiap pelaku pelaksanan pertanian mendapatkan hak- haknya tanpa dibatasi dan  dibelunggu dan  tidak melanggar hal yang lain.

d.  Manusiawi  artinya  menjunjung   tinggi   nilai-nilai  kemanusiaan, dimana harkat dan   martabat  manusia dijunjung tinggi termasuk budaya yang telah ada.

e.   Luwes   yang   berarti  mampu  menyesuaikan  dengan  situasi  dan kondisi saat  ini,  dengan demikian pertanian  berkelanjutan tidak statis  tetapi  dinamis  bisa  mengakomodir keinginan konsumen maupun produsen.

 

 

4.  Indikator Sistem pertanian berkelanjutan

 

Berikut ini merupakan indicator system pertanian berkelanjutan :

 

a.   Menghasilkan produk pertanian yang  berkualitas dengan kuantitas memadai.

b.  Membudidayakan tanaman secara alami.

 

c.   Mendorong   dan     meningkatkan   siklus   hidup   biologis   dalam ekosistem pertanian.

d.  Memelihara dan  meningkatkan kesuburan tanah jangka panjang.

 

e.   Menghindarkan   seluruh    bentuk    cemaran    yang     diakibatkan penerapan teknik pertanian.

f.   Memelihara keragaman genetik sistem pertanian.

 

 

 

5.  Aplikasi pertanian berkelanjutan

 

Beberapa kontribusi dalam meningkatkan keuntungan produktivitas pertanian dalam jangka waktu panjang, meningkatkan kualitas lingkungan dan  meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan sebagai berikut :

a.   Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

 

Pengendalian hama terpadu dapat dikombinasikan dengan beberapa

 

metode,   yaitu    biologi,   budaya,  fisik  dan    kimia,  dalam   upaya        37


 

meminimalkan  biaya,   kesehatan dan   resiko  lingkungan  sebagai berikut:

          Penggunaan  insektisida,   reptil    atau  binatang  yang   dapat mengendalikan hama atau dikenal musuh alami hama.

          Menggunakan tanaman  sebagai perangkap hama, berfungsi sebagai pemikat yang  akan menjauhkan hama dari  tanaman utama.

          Menggunakan mulsa dan  drainase sebagai metode alami yang dapat menurunkan infeksi jamur, dalam upaya menurunkan kebutuhan terhadap fungisida sintetis.

       Melakukan rotasi  tanaman   untuk  memutuskan  populasi

 

pertumbuhan dan  perkembangan hama setiap tahun.

 

 

 

b.  Sistem Rotasi dan  Budidaya Rumput

 

Sistem pengelolahan budidaya rumput intensif adalah dengan memberikan tempat bagi  bintang ternak di luar areal pertanian yang ditanami rumput berkualitas tinggi dan  secara tidak langsung dapat menurunkan biaya  pemberian pakan. Selain itu, sistem rotasi pula dapat memberikan waktu bagi  pematangan pupuk organik. Hal ini tentunya saling menguntungkan bagi  para petani.

c.   Konservasi Lahan

 

Beberapa   metode  konservasi  lahan  termasuk  penanaman  alur, mengurangi   atau   tidak   melakukan   pembajakan   lahan,    dan pencegahan tanah hilang baik  oleh erosi angin maupun erosi air. Kegiatan konservasi lahan dapat meliputi:

   Menciptakan jalur-jalur konservasi.

 

   Menggunakan DAM penahan erosi.

 

   Melakukan penterasan.

 

   Menggunakan pohon-pohon dan   semak  untuk  menstabilkan tanah.

d.  Menjaga Kualitas Air/Lahan Basah

 

Konservasi dan  perlindungan sumberdaya air  telah menjadi bagian        38 penting   dalam   pertanian.   Banyak     diantara   kegiatan-kegiatan


 

pertanian yang  telah dilaksanakan tanpa memperhatikan kualitas air. Biasanya lahan basah berperan penting dalam melakukan penyaringan nutrisi (pupuk anoraganik) dan  pestisida. Adapun langkah-langkah yang  ditujukan untuk menjaga kualitas air, antara lain;

     Mengurangi tambahan senyawa kimia sintetis ke dalam lapisan tanah bagian atas (top soil)

   Menggunakan irigasi tetes (drip irrigation).

 

   Menggunakan jalur-jalur konservasi sepanjang tepi saluran air.

 

     Melakukan penanaman  rumput  bagi   binatang  ternak  untuk mencegah peningkatan racun akibat aliran air  limbah pertanian yang terdapat pada peternakan intensif.

e.   Tanaman Pelindung

 

Penanaman tanaman-tanaman seperti gandum dan  semanggi pada akhir   musim   panen   tanaman    sayuran   atau   sereal,    dapat menyediakan beberapa manfaat termasuk menekan pertumbuhan gulma (weed), pengendalian erosi, dan   meningkatkan nutrisi dan kualitas tanah.

f.   Diversifikasi Lahan dan  Tanaman

 

Bertanam dengan memiliki varietas yang  cukup banyak di  lahan pertanian  dapat    mengurangi kondisi ekstrim  dari   cuaca, hama penggangu tanaman,  dan   harga pasar.  Peningkatan  diversifikasi tanaman dan  jenis tanaman lain  seperti pohon-pohon dan  rumput- rumputan, juga dapat memberikan kontribusi terhadap konservasi lahan, habitat binatang, dan  meningkatkan populasi serangga yang bermanfaat.

Beberapa langkah kegiatan yang dapat dilakukan :

 

     Menciptakan   sarana    penyediaan   air,     yang     menciptakan lingkungan bagi   katak,  burung dan   binatang-binatang lainnya yang memakan serangga dan  insekta.

     Menanam tanaman-tanaman yang  berbeda untuk meningkatkan pendapatan sepanjang tahun dan  meminimalkan pengaruh dari          39 kegagalan menanam sejenis tanaman saja.


 

g.  Pengelolaan Nutrisi Tanaman

 

Pengelolaan nutrisi  tanaman  dengan  baik   dapat  meningkatkan kondisi tanah  dan melindungi  lingkungan  tanah.  Peningkatan penggunaan sumberdaya nutrisi di  lahan pertanian, seperti pupuk kandang     dan       tanaman     kacang-kacangan    (leguminoceae) sebagai  penutup tanah dapat mengurangi biaya  pupuk anorganik yang harus dikeluarkan.

Beberapa jenis pupuk organik yang bisa digunakan antara lain:

 

   Pengomposan

 

   Penggunaan kascing

 

   Penggunaan pupuk hijau (dedaunan)

 

     Penambahan  nutrisi  pada  tanah  dengan  emulsi  ikan   dan rumput laut.

h.   Agroforestri (wana tani)

 

Agroforestri  adalah suatu sistem tata guna lahan yang  permanen, dimana

tanaman semusim maupun tanaman tahunan ditanam bersama atau dalam rotasi membentuk suatu tajuk yang  berlapis, sehingga sangat  efektif untuk melindungi tanah  dari  hempasan air  hujan. Sistem  ini   akan  memberikan  keuntungan  baik   secara  ekologi maupun ekonomi.

Beberapa keuntungan yang diperoleh dari  pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri ini antara lain:

     Dapat   diperoleh  secara   berkesinambungan   hasil   tanaman- tanaman musiman dan  tanaman-tanaman tahunan.

     Dapat dicegah terjadinya serangan hama secara total yang sering terjadi pada tanaman satu jenis (monokultur).

     Keanekaan jenis tanaman yang terdapat pada sistem agroforestri memungkinkan  terbentuknya stratifikasi  tajuk  yang   mengisi ruang secara berlapis ke arah vertikal. Adanya struktur stratifikasi tajuk seperti ini dapat melindungi tanah dari hempasan air hujan,

karena energi kinetik air hujan setelah melalui lapisan tajuk yang          40


 

berlapis-lapis menjadi semakin kecil  daripada energi kinetik air hujan yang jatuh bebas.

 

 

E.  PERKEMBANGAN ALAT MESIN PERTANIAN

 

Pada   zaman purba orang belum mengenal cara bercocok tanam, manusia hanya mengambil bahan makanan yang  dihasilkan alam.   Namun untuk  mengambil bahan  makananpun  memerlukan alat.  Pada   zaman  ini manusia menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu.

Alat-alat yang digunakan pada masa ini antara lain: Kapak  perimbas untuk merimbas kayu, menguliti binatang, dan  memecah tulang. Kapak genggam untuk menggali umbi dan   memotong hewan buruan.  Alat  serpih

digunakan sebagai pisau.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kapak perimbas, Sumber : kompas.com            Kapak    genggam,   Sumber  :

 

Idsejarah.net

 

 

 

Karena  kebutuhan pangan terus meningkat, maka manusia mulai mengenal cara  bercocok tanam  walaupun masih  sangat  sederhana. Alat bercocok tanam yang  digunakan pada saat itu masih berasal dari  batu yang dihaluskan misalnya beliung persegi untuk menebang kayu  dan  mencangkul.

Kapak lonjong untuk mengolah tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

41


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kapak/beliung persegi, Sumber Idsejarah.net

 

Seiring perkembangan peradapan manusia dan  cara bercocok tanam maka mulailah terjadi perkembangan alat yang  tadinya hanya berasal dari batu, mulai berkembang alat-alat yang  berasal dari  logam walaupun jumlahnya sedikit, karena ketersediaan logam terbatas. Alat-alat pertanian berasal dari logam masih berkembang sampai sekarang, dan  masih banyak digunakan dalam kegiatan bercocok tanam.

Berikut ini  adalah contoh alat-alat pertanian yang  masih banyak digunakan secara konvensional :

a.   Cangkul  adalah  alat  bercocok tanam  tradisional  yang berfungsi untuk menggali tanah,  memindahkan,  maupun  meratakan  tanah serta membersihkan tanah tempat tanaman bertumbuh dari rumput.

b.  Kipas    adalah   alat   bercocok  tanam   tradisional  yang berfungsi untuk membersihkan  padi    yang    sudah   dipanen  dengan  cara mengipas padi

c.   Bajak  adalah alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi  untuk menggemburkan  tanah   /  lahan  sebelum ditanami dengan bibit tanaman.

d.  Sekop adalah  alat  bercocok tanam  yang berfungsi  untuk untuk memindahkan tanah dari satu tempat ke tempat lain.

e.   Sabit     adalah     alat     bercocok     tanam      tradional berfungsi untuk memanen padi  yang sudah matang dengan memotong batang padi  pada bagian bawah.

f.    Ani-ani adalah alat bercocok tanam tradisional berupa sebuah pisau        42 kecil  yang berfungsi untuk memanen padi  dengan cara memotong


 

tangkai  bulir   padi   yang   sudah  matang.  Dengan  perkembangan budidaya tanaman untuk memanen padi  dilakukan dengan menggunakan sabit

g.  Lesung air berfungsi untuk menumbuk padi  yang telah dipanen agar terkelupas dan  menjadi beras.

h.   Tongkat kayu / tugal adalah alat bercocok tanam tradisional dengan ujung runcing yang berfungsi untuk membuat  lubang pada tanah yang akan ditanami bibit tanaman dengan cara menumbuk tanah.

i.    Garu.   Tahap    kedua  dalam  mengolah  tanah  dilakukan  dengan menggunakan garu. Hasilnya, tanah akan menjadi jauh lebih  gembur dan  rata, tata kelola  air menjadi jauh lebih  baik, tanaman liar yang menganggu dan  berpotensi merusak hasil pertanian juga hancur.

Ada beberapa jenis garu  yang biasa digunakan:

 

1.     Garu Sisir -> Garu sisir lazim digunakan pada tanah bongkah untuk membuatnya lebih  subur. Namun, penggunaannya akan lebih  optimal pada saat lahan pertanian tersebut masih basah setelah diolah menggunakan alat pembajak

2.  Garu  Piring   -> Garu   ini   dimanfaatkan  untuk  memangkas rumput pada permukaan tanah yang  akan ditanami, menghancurkan lapisan tanah sehingga lebih lembut dan siap untuk ditanami. Setelah benih disebar, garu  piring juga dapat digunakan untuk  menutup  biji   tersebut  agar   sepenuhnya tertimbun tanah.

3.   Garu Paku  -> Memiliki  gigi-gigi yang  menyerupai paku,  garu jenis ini dimanfaatkan untuk meratakan serta menghaluskan tanah setelah dibajak. Apabila telah masanya untuk menyiangi tanaman   yang     baru   tumbuh,    para   petani   juga   bisa

menggunakan alat ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

43


 

 

Pacul. Sumber : faceboook.com              Garu tanah. Sumber :

 

shopee.co.id

 

 

 

 

Sabit . sumber : blibli.com                         Bajak. Sumber :

 

jatengprov.go.id

 

 

Kipas. Sumber : facebook.com                  Ani-ani. Sumber :

 

kompasiana.com

 

 

44


 

 

Lesung. Sumber : republika.co.id        Tugal. Sumber : infopublik.id

 

 

 

 

 

Dengan berkembangnya teknologi saat ini, pekerjaan para petani juga semakin dimudahkan dengan hadirnya alat-alat pertanian modern yang bisa digunakan seperti di bawah ini:

a.      Traktor adalah alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menggemburkan tanah yang  akan ditanami dengan bibit tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : quick.co.id

 

b.      Rotavator   adalah alat bercocok tanam  modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menggemburkan tanah  dengan cara memotong, membolak balik, dan  mencacah tanah.

 

 

 

 

 

 

 

45


 

 

Sumber : solidworld.com

 

 

 

c.      Mesin  penanam   jagung.  Mesin  penanam  jagung  adalah  alat bercocok tanam  modern dengan  bantuan  mesin  yang berfungsi untuk menanam bibit jagung.

 

Sumber : shopee.co.id

 

 

 

d.      Mesin penanam  padi.  Mesin penanam  padi  adalah alat bercocok tanam     modern    dengan     bantuan     mesin     yang berfungsi

untuk menanam bibit tanaman padi  yang masih tumbuh kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : jatengprov.go.id

46


 

e.      Pompa     irigasi     adalah   salah   satu    alat   bercocok  tanam yang berfungsi untuk mengairi lahan tanaman sehingga tanaman bertumbuh dengan baik.

 

Sumber : klikglodok.com

 

 

 

f.      Power  weeder   adalah salah satu  alat  bercocok tanam  modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk mebersihkan gulma atau tanaman penganggu dari lahan tanaman.

 

Sumber : amazon.in

 

 

 

g.     Thereser  adalah salah satu alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk membersihkan padi yang telah

dipanen dari sisa kotoran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

47

 

Sumber : facebook.com


 

 

 

h.      Mesin  pengering  padi   adalah salah satu  alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk mengeringkan padi  yang masih lembab atau basah yang baru dipanen dari sawah.

 

Sumber : shopee.co.id

 

 

 

i.      Harvester  adalah salah satu alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk memanen padi  dengan cara memotong  padi   dan   merontokkan batang  dan   daunnya  hingga menghasilkan padi  tanpa batang dan  daun.

 

Sumber : trelleborg.com

 

 

 

j.      Mesin semprot  adalah salah satu alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menyemprot tanaman dengan  pupuk  cair   sebagai sumber makanan tamabahan  pada tanaman  maupun menyemprot tanaman  dengan obat pengusir /

pemberantas hama.

 

 

 

 

 

 

48


 

 

Sumber : amtast.id

 

 

 

k.     Mesin  penebar  pupuk   adalah salah satu  alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menyebarkan pupuk berbentuk serbuk pada tanaman.

 

Sumber : id.wikipedia.org

 

 

 

SMART FARMING

 

Smart farming adalah  sistem  pertanian  berbasis  teknologi yang dapat membantu petani meningkatkan hasil panen secara kuantitas dan kualitas.  Smart farming merupakan  metode pertanian  cerdas  berbasis teknologi. Terdapat beberapa teknologi pertanian yang  digunakan di antaranya penyiraman otomatis, drone sprayer (drone penyemprot pestisida dan  pupuk cair), drone surveillance (drone untuk pemetaan lahan) serta soil

and  weather sensor (sensor tanah dan  cuaca).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

49


 

 

Drone sprayer

 

Sumber : bushhguidelines.org

 

 

 

FARMING, PRESISI, DAN TERINTEGRASI

 

Penerapan metode smart farming 4.0 bukan sekedar tentang penerapan teknologi pertanian. Namun, kunci utama dari metode ini adalah tentang data yang   terukur.  Apa  saja yang   dibutuhkan tanaman  untuk mencapai hasil produksi yang  optimal? Apa yang  harus dilakukan petani? Semua  pertanyaan  ini   bisa  dijawab dengan  penerapan  metode  smart farming 4.0.

Keberadaan  sensor  tanah  dan   cuaca  yang   terpasang  di   lahan pertanian, akan  membantu  petani  dalam  mendapatkan  data  tentang tanamannya. Data yang dapat diperoleh dari sensor ini di antaranya seperti kelembapan udara dan tanah, suhu, pH tanah, kadar air, curah hujan, hingga kecepatan angin. Data tersebut dapat digunakan petani untuk memantau

kondisi lahannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

50


 

 

Sistem irigasi pintar ECOMOTION. Sumber : faceboook.com

 

 

 

Sistem  Irigasi  Pintar  ENCOMOTION  misalnya, suatu  sistem  yang digunakan untuk melakukan penyiraman secara tepat dan  presisi. Sistem irigasi  pintar  ENCOMOTION   ini   menggunakan dua  alat  yang   bernama SiJamoor dan  SiRamot. Sijamoor berperan sebagai sensor untuk memantau kondisi lingkungan sekitar tanaman sedangkan SiRamot berperan sebagai alat yang mengatur jumlah air yang akan diberikan pada tanaman.

Pada  dasarnya, SiJamoor merupakan sensor cuaca yang  akan memantau dan  mengumpulkan data secara berkala mengenai suhu, kelembapan,  intensitas  cahaya, curah hujan, serta  kecepatan dan   arah angin.   Kemudian   data  tersebut  secara  otomatis  akan  terkirim  dan tersimpan   pada dashboard dan    aplikasi   Encomotion.   Kemudian   data tersebut akan digunakan oleh  SiRamot (alat pengatur) untuk menentukan jumlah  air   yang   diberikan pada  tanaman.  Penyiraman otomatis  akan dilakukan oleh sistem irigasi pintar pada pukul 8 pagi  dan  4 sore.

Penerapan metode smart farming 4.0 bisa jadi  solusi bagi  berbagai permasalahan  di   sektor  pertanian  Indonesia.   Masa    depan  pertanian

Indonesia adalah pertanian yang cerdas berbasis teknologi.

 

 

51


 

 

 

PENERAPAN  INTERNET OF THINGS (IoT) SOLUSI DI SEKTOR PERTANIAN

 

Penerapan Internet  of  Things (IoT) pada sektor pertanian menjadi gagasan   baru   yang    harus   dikembangkan  dan  sangat   tepat   untuk direalisasikan   pada  sektor  pertanian.  Karena  Internet   of   Things (IoT) mampu menjawab semua permasalahan yang dimiliki oleh petani. Sensor- sensor yang dimiliki Internet of Things (IoT) dalam sektor pertanian mampu mendeteksi  tingkat  kesuburan  tanah,   pengendalian  penyakit  maupun hama. Kemudian, teknologi wireless yang  ada pada Internet of Things (IoT) mampu mendeteksi cuaca dan  iklim. Selain itu, teknologi Internet of Things (IoT)    mampu    melakukan    penjadwalan    otomatisasi    penyiraman, penyemprotan pestisida dan  pemupukan. Dengan berbagai kekuatan yang ada pada Internet of Things (IoT) menjadi potensi dan  solusi yang  sangat besar untuk mendukung dan  membantu petani di Indonesia. Perkembangan IoT

Perkembangan teknologi di dunia semakin pesat seiring maraknya digitalisasi  di   berbagai  sektor.   Tantangan   bagi    pelaku  bisnis  yaitu bagaimana sistem yang digunakan dapat mudah diakses dimana saja dan kapan saja. Sehingga hal  itu  mendorong tumbuhnya teknologi Internet of Things (IoT).

Internet of Things (IoT) mendeskripsikan jaringan objek fisik yang terpasang

 

dengan sensor, perangkat lunak, dan  teknologi lain. Tujuannya yaitu  untuk menghubungkan dan  bertukar data dengan perangkat sistem lain  melalui internet. Konsep pertanian presisi tidak terlepas dari  IoT, Data yang  ada di lapangan dikumpulkan oleh berbagai sensor di lapangan. Data yang dikirim melalui internet untuk diolah dan  dibuat keputusan lebih  lanjut ( Wibowo, N.H., dalam Permana 2019).

Penerapan Internet   of  Thing (IoT)   pada  pertanian  dapat  berupa

 

teknologi sensor untuk penggunaan air, sensor untuk mendeteksi serangan hama,  dan   juga  sensor  yang   mengetahui  emisi  lingkungan.  Dengan penerapan tersebut hasil pertanian dapat meningkat dengan pesat dan

akurat.  Selain itu,  IoT dapat mempermudah pengawasan lahan produksi        52 melalui smartphone.


 

 

 

Manfaat penggunaan IoT pada  sektor pertanian

 

Penggunaan IoT bisa mewujudkan pertanian presisi (precision farming) dan   irigasi  pintar.   Artinya,   melalui  penggunaan  sensor  yang diterapkan di lahan pertanian memungkinkan petani mendapatkan informasi detail topografi, tingkat kesuburan, tingkat keasaman hingga suhu tanah, bahkan dapat mengukur cuaca serta memprediksi pola cuaca.

 

 

Tantangan penerapan IoT pada  sektor pertanian

 

IoT memiliki tantangan berupa terbatasnya daya listrik dan perangkat komunikasi di lapangan. Hal tersebut karena sebagian besar daerah pertanian di Indonesia berada di remote area yang terbatas infrastrukturnya. Pada  saat penerapannya pun  masih ada tantangan yang  dihadapi, yaitu mengedukasi petani dalam penggunaan teknologi ini  untuk mendukung kegiatan/operasional mereka sehari-hari. Untuk mengatasi  tantangan tersebut diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik pemerintah, swasta maupun petani itu sendiri.

Dengan    berkembangnya Internet    of    Things (IoT)   pada   sektor pertanian  maka  berpotensi  pada  peningkatan  produktivitas pertanian, meningkatkan ketertarikan golongan milenial dalam bertani, dan  dampak positif lingkungan seperti penggunaan air yang  akurat. Namun, tantangan penerapan IoT perlu  dihadapi oleh kita semua untuk kemajuan pertanian di Indonesia.

 

 

F.  Penerapan Bioteknologi Dalam  Pertanian

 

 

 

1.     Pengertian Bioteknologi

 

Bioteknologi  berasal  dari  kata bios yaitu  hidup, teuchos yaitu  alat dan  logos yaitu  ilmu, sehingga dapat dikatakan bahwa bioteknologi adalah ilmu    yang    mempelajari   penerapan   prinsip-prinsip  biologi.   Menurut European    Federation    of    Biotechnology   (EFB),    bioteknologi   sebagai

perpaduan dari  ilmu  pengetahuan alam dan  ilmu  rekayasa yang  bertujuan        53


 

untuk meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari  organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan barang dan  jasa.

Menurut         IGA.      Maya     Kurnia      (2014)     Bioteknologi    adalah pemanfaatan dan/atau perekayasaan proses biologi dari suatu agen biologi untuk  menghasilkan  produk dan   jasa yang   bermanfaat  bagi   manusia karena di  dalamnya terdapat  perekayasaan proses,  termasuk rekayasa genetika. Bioteknologi sebenarnya sudah dikerjakan manusia sejak ratusan tahun yang lalu, dengan menggunakan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur  ragi   untuk  membuat  makanan  bermanfaat  seperti  tempe, roti, anggur, keju, dan  yoghurt. Namun istilah bioteknologi baru berkembang setelah Pasteur menemukan proses fermentasi dalam pembuatan anggur. Di bidang pertanian, mikroorganime digunakan sejak abad ke-19  untuk mengendalikan hama serangga dan  menambah kesuburan tanah. Mikroorganisme juga sudah  digunakan  secara  luas  didalam mengolah limbah industri dalam dasawarsa ini.

 

 

2.   Jenis Bioteknologi

 

a.  Bioteknologi konvensional

 

Bioteknologi   konvesional   adalah    bioteknologi   yang memanfaatkan mikroorganisme secara langsung untuk menghasilkan suatu produk, proses bioteknologi konvensional ini lebih  dikenal dengan istilah fermentasi. Fermentasi merupakan proses produksi energi tanpa oksigen (anaerob) namun seiring berkembangnya teknologi istilah fermentasi meluas menjadi semua proses yang  melibatkan mikroorganisme untuk  menghasilkan  suatu  produk baik   metabolit primer atau  metabolit sekundernya.  Contoh  produk hasil  fermentasi yaitu  yoghurt, keju, bir, tape dan  tempe. Dalam dunia pertanian bioteknologi konvensional dapat  digunakan untuk  membuat  pupuk kompos, pupuk kandang dan  biogas melalui proses fermentasi dengan

bantuan mikroorganisme.

 

 

 

54


 

b.  Bioteknologi modern.

 

Bioteknologi modern  erat  kaitannya  dengan  rekayasa  genetika, dalam bidang pertanian bioteknologi mempunyai tujuan  untuk meningkatkan produktivitas dan  perbaikan sifat-sifat suatu tanaman pada level gen. Secara keseluruhan bioteknologi dalam bidang pertanian bertujuan untuk menjaga ketahanan pangan.

Aplikasi  bioteknologi dalam bidang pertanian dapat membantu dalam percepatan produksi benih, perbaikan sifat-sifat tanaman, hingga menghasilkan jenis tanaman baru. Semua itu  bisa dihasilkan dengan

cara rekayasa genetika dan  kultur jaringan.

 

 

 

3.  Penerapan Bioteknologi di bidang Pertanian

 

Penerapan bioteknologi mulai dari  bioteknologi konvensional sampai dengan  bioteknologi modern,  sudah  banyak  sekali  diterapkan  di  bidang pertanian.

Beberapa contoh penerapan bioteknologi di bidang pertanian antara lain :

 

a.  Pupuk Organik

 

Pupuk  organik  merupakan   pupuk   yang    berasal  dari    sisa-sisa makhluk hidup yang  sudah terdekomposisi. Ada dua jenis pupuk organik yaitu  pupuk organik padat dan  pupuk organik cair (POC).

Dalam  proses  pembuatan  pupuk  organik  dibantu  oleh mikroorganisme untuk mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Mikroorganisme yang  sering digunakan di bidang pertanian adalah Efektif Mikroorganism  4  (EM 4).  Bakteri  terdiri  dari   sekumpulan  bakteri yang berasal dari genus Lactobacillus dan  Saccharomyces.

b.  Pestisida hayati

 

Pestisida hayati merupakan pestisida yang  memanfaatkan mikroorganisme hidup sebagai agen hayati pengendali OPT. Agen tersebut dapat berupa virus atau fungi. Terdapat lebih  dari 70000 spesies organisme pengganggu tanaman dan  10% di antaranya tergolong hama dan  penyakit utama yang  merugikan  secara  ekonomi. Dengan  jumlah begitu banyak

maka   perlu    dilakukan   pengendalian.   Umumnya   petani   melakukan         55


 

pengendalian dengan cara kimia.   Pengendalian organisme  pengganggu tanaman hendaklah dilakukan secara terpadu.

Pengendalian secara  kimia  merupakan  alternatif  terakhir  dalam metode pengendalian OPT secara terpadu. Selain itu  pengendalian secara kimia memang sangat  cepat dan   praktis dilakukan namun di  samping kepraktisannya  pengendalian  secara  kimia  membutuhkan  biaya   yang mahal. Pengendalian secara kimia juga dapat menyebabkan hama menjadi resisten terhadap suatu bahan kimia. Hama resisten sendiri muncul karena dari sekian banyak hama yang dikendalikan dengan metode kimiawi masih terdapat hama yang  bertahan walaupun jumlahnya sedikit. Oleh karena itu pestisida hayati diterapkan guna mengurangi dampak yang  ditimbulkan dari pengendalian secara kimiawi.

Beberapa penerapan biopestisida hayati antara lain adalah cendawan entomopatogen yang  dijadikan sebagai bioinsektisida. Terdapat lebih  dari

700 spesies cendawan yang memiliki sifat patogen terhadap berbagai jenis spesies  serangga.  Diantaranya  adalah  cendawan  entomopatogen  dari genus Aschersonia telah diidentifikasi untuk pengendalian serangga yang berukuran  kecil   seperti kutu  dan   larva.  Cendawan  ini  dapat dipertimbangkan sebagai jamur prospektif untuk memanajemen lalat buah. Hal ini disebabkan toleransinya terhadap kelembaban, ketahanan terhadap musuh alami dan kemampuan menginfeksi serangga penghisap tumbuhan dengan    membunuh    serangga    baik      secara    langsung    ataupun sekunder.   Cendawan  entomopatogen Aleyrodis juga  mempunyai  banyak inang termasuk kutu kebul (Bemisia tabaci) yang merupakan factor utama penyakit  virus   pada   tanaman   kedelai.   dengan   adanya   penerapan bioteknologi di  bidang pertanian dapat meningkatkan dan   memajukan sektor pertanian di Indonesia.

c. Rekayasa genetika

 

Rekayasa  genetika adalah suatu  usaha  memanipulasi suatu  gen organisme untuk tujuan tertentu, dengan cara menghilangkan atau menambahkan suatu gen  sehingga menghasilkan organisme dengan sifat-

sifat yang  diinginkan. Organisme yang  telah direkayasa genetikanya sering        56 disebut dengan Genetic Modified Organism (GMO). Contoh bioteknologi dalam


 

bidang  pertanian  yang   berupa tanaman  GMO yang   ada  di  sekitar  kita diantaranya adalah:

     Jagung manis. Jagung manis yang  kita  konsumsi saat ini merupakan jagung hasil rekayasa genetika. Pada  jagung manis gula  yang terkandung direkayasa untuk tidak diubah menjadi pati sehingga tetap manis dan  berair.

     Pepaya California, pepaya ini juga merupakan hasil rekayasa genetika oleh  seorang  profesor dari  IPB,  yang  memiliki kelebihan rasa lebih manis dan  cepat berbuah.

     Golden  rice,  pada tanaman padi   ini  disisipkan gen  penghasil beta karoten dari  tanaman wortel, sehingga padi   ini  memiliki kelebihan selain mengandung karbohidrat juga memiliki kandungan vitamin A.

     Kapas yang resisten terhadap Bt toksin, pada tanaman kapas ini telah disisipkan gen Bt toksin sehingga aman dari hama.

     Kedelai  impor yang  menjadi bahan baku dari  tempe dan  tahu, kedelai ini telah disisipkan dengan gen EPSPS sehingga kedelai impor ini tahan terhadap herbisida berbahan glifosfat.  Selain itu  kelebihan lainnya adalah harganya lebih  murah karena selalu tersedia di pasaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jagung dan  Kedelai Hasil Rekayasa Genetika. Sumber : bbppmbtph.tanamanpangan.pertanian.go.id

 

 

 

d.  Kultur jaringan

 

Selain rekayasa genetika, kultur jaringan juga memiliki peran dalam

 

bidang    bioteknologi   pertanian.   Kultur    jaringan    digunakan    untuk         57 memperbanyak  tanaman   hasil   rekayasa   genetika   dan    juga   untuk


 

menyediakan benih unggul yang selalu tersedia sepanjang waktu yang tidak dapat dipenuhi dengan perbanyakan tanaman secara konvensional. Selain itu  kultur jaringan juga digunakan untuk menghasilkan benih tanaman dalam waktu relatif cepat dan  dalam jumlah banyak yang tidak tergantung kondisi musim atau cuaca.

Kultur jaringan sendiri bukanlah suatu ilmu, melainkan suatu teknik yang  sangat penting dalam bidang bioteknologi pertanian. Kultur jaringan merupakan teknik menumbuhkan  tanaman  dari   bagian tanaman  yang dapat berupa sel, jaringan atau organ yang  ditanam dalam media tumbuh dalam kondisi lingkungan yang aseptis sehingga tumbuh menjadi tanaman utuh. Media  tumbuh yang  digunakan pada kultur jaringan berisi nutrisi makro, mikro, dan  vitamin yang dibutuhkan oleh tanaman seperti layaknya yang ada dalam tanah.

 

Sumber : ilmudasar.id

 

 

 

Pengertian  lain   mengenai  kultur  jaringan  adalah  metode perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan teknik menumbuhkan eksplan pada medium yang  mengandung zat hara yang  sesuai dengan kebutuhan eksplan pada kondisi yang  aseptik dan  lingkungan yang terkendali.

Eksplan adalah bahan tanam yang  dapat berupa protoplasma (sel yang   sudah  dihilangkan dinding selnya),  jaringan,  organ,  dan   embrio. Kondisi  aseptik yaitu  ruangan, media, alat tanam, dan  eksplan harus dalam

kondisi aseptik (keadaan bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit).             58


 

Lingkungan   terkendali   maksudnya    adalah   suhu   dan    cahaya terkendali.

Langkah-langkah dalam melakukan kultur jaringan adalah sebagai berikut:

 

1.     memilih tanaman induk sebagai sumber eksplan ( tanaman yang dipilih adalah tanaman yang sudah jelas jenis, varietas, spesies, dan juga bebas dari hama dan  penyakit).

2.  melakukan inisiasi kultur

 

3.   melakukan sterilisasi pada seluruh alat yang digunakan dan  juga bahan tanam.

4.  multiplikasi atau penggandaan tunas atau embrio tanaman

 

5.   pengakaran

 

6.   aklimatisasi atau pemindahan eksplan ke lahan tanam.

 

 

Ilustrasi langkah-langkah melakukan kultur jaringan

 

Sumber : zonasiswa.com

 

 

 

Aplikasi bioteknologi lainnya dapat digunakan untuk menciptakan pertanian yang berkesinambungan, dengan cara mengurangi ketergantungan pertanian terhadap bahan  kimia.    Berbagai   macam   riset   bioteknologi  terus   dilakukan  untuk

menemukan produk pertanian yang dapat meningkatkan produksi maupun dapat

59

menjadi solusi terhadap permasalahan pertanian lainnya.


 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Abay, U, . 2020. Aplikasi Bioteknologi Dalam Dunia Pertanian. https://www.swadayaonline.com/artikel/6421/Aplikasi-Bioteknologi-dalam- Dunia-Pertanian/ , diakses tanggal 25 September 2021

 

Handewi,   P.S.R.,  Mewa,  A.,  2002.  Ketahanan  Pangan :  Konsep,  Pengukuran dan

Strategi, FAE, Volume 20 No.1 : 12-24. Bogor

 

Kurnia, IGA.M. 2014. Bioteknologi Pertanian, https://distan.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/bioteknologi - pertanian-76 , diakses tanggal 25 September 2021.

 

Kusmiadi, E., 2014. Pengantar Ilmu Pertanian, repository.ut.ac.id

 

Permana, A. 2019. Alumni ITB Ciptakan Inovasi Alat Precision Farming, https://www.itb.ac.id/news/read/57142/home/alumni-itb-ciptakan-inovasi- alat-precision-farming , diakses tanggal 25 September 2021.

 

Rivai,  R.S.,  Iwan,  S.A.,  2011.  Konsep  Dan  Implementasi  Pembangunan Pertanian

Berkelanjutan  Di Indonesia,  Forum  Penelitian Agro  Ekonomi,  Volume  29

No.1:13-25, Bogor.

 

Rubiah, H. 2021.  Encomotion, Sistem Irigasi Pintar, Alat Penyiram Tanaman Otomatis, https://www.biopsagrotekno.co.id/encomotion-sistem-irigasi- pintar-alat-penyiram-tanaman-otomatis/ , diakses tanggal 25 Sepetember

2021.

 

Safitri, N.N., 2020. Peran  Bioteknologi Tanaman Dalam Bidang Pertanian, https://www.bengkulunews.co.id/peran-bioteknologi-tanaman-dalam- bidang-pertanian , diakses tanggal 25 September 2021

 

Setiawan, M.I., Hery, B., Koespiadi. 2015. Pengembangan sentra pertanian perkotaan (urban Farming) menggunakan struktur air inflated greenhouse, Prosiding Seminar Nasional Fakultas Teknik Sipil Universitas Narotama, Surabaya.

 

 

Disahkan Oleh

Kepala Sekolah,

Diperiksa Oleh :

Waka Kurikulum,

Kolaka, 10 juli 2022

Guru Mata Pelajaran,

 

 

 


MUSTARI MUHAMMAD,SP.d.M.Pd

NIP.19780523 200312 1 011

 

 

 

 

SUFAH KODUKU, S.Pd

NIP.197209082000121004

 

 

 

 

ISHAR, S.P.M.Pd

NIP.19690223200012 1 003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

60

Komentar

Posting Komentar